Novel 3 (Lanjutan)
RASA YANG MASIH TERSIMPAN
Hufffttt.... cape banget rasanya bersihin kelas
sendirian. Ya meskipun sudah ada yang piket, tetap saja yang piket tidak
bersih. Jadi saja aku harus membersihkannya kembali. Batinku sambil menyapu
yang hampir menuju pintu kelas.
Sruk... tiba tiba ada
sampah yang jatuh dari atas, tepatnya dari kelas atas. Aku melihat ke atas agar
mengetahui siapa yang membuang sampah ke bawah sini. Setelah ditelusuri, aku
tidak melihat siapapun. Lalu aku melanjutkan menyapu.
Klik.. aku mengunci
pintu kelas dan berjalan menuju ruang OSIS. Sebelum sampai di ruang OSIS, aku
melihat seseorang atau 3 orang yang hendak menuruni anak tangga di sebelah
ruang OSIS. Dan seketika aku teringat pada kejadian tadi, sampah yang turun
dari kelas atas. Mungkin dia yang
membuangnya? Lagi-lagi batinku berbicara.
Haa?
Dia?. Ternyata yang turun dari anak tangga
tersebut salat satu orang diantara mereka adalah orang yang dulu memiliki rasa
kepadaku.
Aku tidak
mempedulikannya. Aku melanjutkan jalanku menuju ruang OSIS. Mereka melewati
ruang OSIS, dan kurasa dia melirik ke arahku. Dan reaksiku seperti tidak
melihat apapun.
#
Keesokan harinya, guru
IPAku mengadakan ulangan. Kami sekelas dibagi menjadi 2 kloter. Aku kebagian
kloter 2 dan menunggu di luar kelas. Sambil membaca-baca materi, aku dan
temanku yang lain mengobrol untuk menghilangkan stres. Dan aku tidak sengaja
melihat ke atas, dimana sampah yang kemarin terjatuh.
Mataku menangkap
seorang laki-laki yang tidak begitu jelas, namun aku mengenalinya. Aku tidak
mempedulikannya dan kembali membaca materi. Dan untuk kedua kalinya aku
menengok ke atas, seseorang itu tidak ada. Ah
mungkin saja dia kebetulan sedang berdiri disana, pikirku dalam hati.
Namun, setelah beberapa menit kemudian, aku menengok kembali ke atas, seseorang
tersebut ada dan melihat ke arahku hanya sebentar, setelah itu ia pergi.
Lagi-lagi aku tidak mempedulikannya.
Kloter 1 pun akhirnya keluar,
dan giliran kloter 2 yang masuk dan mengerjakan ujian. Aku memasuki kelas dan
berjalan menuju kursiku dan siap-siap untuk menjawab soal yang diberikan guru.
Setelah 1 jam kemudian,
aku berhasil menyelesaikan soalnya dan berjalan ke arah meja guru untuk
mengumpulkan soal dan jawabanku. Setelah itu, pergi keluar kelas. “wihhh, cepat
sekali kamu menyelesaikan ulangannya, Sha?” tanya Lusi, teman tetangga kursiku.
“Orang isinya aja ada semua di materi si Ibu, Lusi.” Jawabku dengan simple.
“yaa tapi kan, materi si Ibu banyak,
susah untuk menghafalnya.”
“makanya jangan dihafal kalau materi.”
“terus diapain? Dilihatin? Dipelototin?”
“Hahahaha..” teman yang lain
menertawakan apa yang dibicarakan Lusi.
“diseduh terus diminum sekalian, Lusi.
Biar masuk ke otaknya, hahaha...” Kata Adi, seksi keamanan di kelasku.
“yaudah kamu aja sana yang kaya gitu.
Emang iya ya bakal masuk ke otak materinya?” tanya Lusi dengan polos.
“aduhhh.. udah mah males, polos lagi.”
Kesal Adi.
“Udah udah, Adi cuma bercanda, Lus. Kamu
harusnya mempelajari materinya, tapi jangan dalam 1 malam aja pas lagi ulangan
aja. Itu bakal membebanimu.” Leraiku.
“Iya juga ya, Sha.” Akhirnya dia
mengakui juga.
Tak terasa perdebatan itu melewati waktu
ulangan kloter 2. Kami yang diluarpun masuk kembali ke dalam kelas.
#
“Aku berangkat sekolahnya jalan kaki aja
ya, yah.” Pintaku pada Ayah.
“Iya hati-hati di jalannya. Kalau mau
nyebrang, tengok kanan kiri dulu.” Perhatian Ayah kepada anak perempuannya
memang begitu besar.
“Iya Ayah, aku pamit Ayah Mama.” Sambil
menyalami tangan Ayah dan Mama.
“Oiya nanti pulang dijemput jam berapa?”
“gausah dijemput yah, aku pulangnya
jalan kaki aja, Yah.”
“yasudah, hati-hati juga pulangnya.”
“oke siap Ayah.”
Aku berjalan menjauhi
rumah. Setelah puluhan langkah aku lewati, aku memang terkadang suka menghitung
berapa langkah aku melewatinya sampai ke sekolah. Saat aku menyebrangi jalan,
aku melihat 3 orang siswa yang berjalan di sebrang sana. Dan lagi-lagi yang aku
lihat itu orang yang menuruni anak tangga saat aku menuju ke ruang OSIS. Dia,
lagi-lagi melirik kepadaku, seperti ada sesuatu, entah itu hal yang ingin
disampaikan atau hal yang ingin dia utarakan kepadaku.
Setelah aku melewati
jalan, mereka berjalan di belakangku. Sampai di ruang OSIS, kita berpisah. Dia
menaiki anak tangga bersamanya temannya. Begitu saja setiap aku berangkat
sekolah jalan kaki. Dan aku sampai hafal di jam berapa dia berada di lampu
merah pada saat kita bertemu. Sungguh hal yang kocak menurutku. Aku berusaha
untuk bisa berangkat sekolah bareng dia. Dan aku mulai berpikir, apakah aku masih memiliki rasa kepadanya?.
Dan apakah dia juga masih ada perasaannya
kepadaku? . batinku bertanya-tanya.
Suatu ketika, aku menerima pesan dari
nomor tak dikenal.
‘Assalamualaikum
wr.wb siang Sha, lagi apa?’
Dari siapa ini? Tanya batinku. Aku malah
berpikiran ke Sahrul. Apa karena aku sedang memikirkannya?
#
Ketika jam istirahat,
aku dan Billa berjalan menuju kelas selepas dari kantin. Tiba-tiba kita
berpapasan dengan Sahrul dan temannya.
“Dra..” sapa Billa kepada temannya.
“hei Res..” balik sapa dari temannya.
Setelah melaluinya, aku bertanya, “kamu
kenal Bil?”
“Kenallah orang dia sekelas sama aku pas
kelas 7, Sha.”
Ooo.. aku hanya bisa ber-oh tanpa
memikirkan apapun.
“dan oiya, kata temanku yang tadi,
temannya yang tadi jalan bareng sama dia, sebenarnya suka sama kamu pas kelas
8, Sha.” Tambahnya.
“Haa? Masa iya?” heranku.
“Iya, Cuma dia belum bisa
mengungkapkannya ke kamu, kata temanku tadi.”
Aku hanya bisa terdiam. Antara kaget dan
bahagia. Dari situ aku sudah memastikan bahwa yang mengirim pesan itu dirinya.
#
Hari demi hari, aku
menunggu SMS itu lagi, namun nyatanya tidak ada SMS lagi. Apa dia belum bisa mengungkapkannya?. Sudah lama aku memendam rasa
ini kepadanya. Dan sudah lama juga bahkan ga sering kita berinteraksi karena
bedanya kelas. Namun yang aku takutkan dia tidak menyukaiku. Dia malah menyukai
temanku. Seperti firasat aku sejak kelas 8. Dia seolah menyukai temanku, Wanti
namanya. Malah teman-temannya sering meledeki dia dengannya. Yang membuat aku
bertanya-tanya. Dia sulit aku tebak. Dari mata dia ada sesuatu yang ingin dia
ungkapkan ke aku. Tapi apa?.
Pengakuan dia kalau dia tidak menyimpan rasa kepadaku? Atau sebaliknya? Ya
meskipun aku lebih baik tidak mengetahuinya sama sekali. Tapi rasa penasaranku
kian bertambah. Dan sampai di titik aku harus berhenti untuk mengharapkannya.
Komentar
Posting Komentar