Novel



This is my life


PROLOG

Namaku Shasa Syanavya. Sekarang aku berumur 18 tahun. Bersekolah di SDN 1 Wisesa di daerah Kuningan. Aku anak kedua dari 5 bersaudara. Ayah dan ibuku bekerja sebagai sopir dan guru.
Hidupku berlika-liku. Kadang senang, kadang sedih. Kadang semangat, kadang menyerah. Kadang di atas, kadang di bawah. Namun ada yang menarik di hidupku. Di sela-sela bait kehidupanku, ada sesuatu yang mungkin orang lain belum merasakannya.
Selamat menempuh hidupku.
~

BISNIS SEDARI KECIL

Selepas pulang sekolah sesampainya di rumah, aku melihat mamaku mengemas barang-barang. "Ma, mau kemana?" tanyaku kepada mama. 
"Kita mau pindah rumah Ca."
"Kemana ma?"
"Ke rumah mimih." Mimih adalah bahasa sundanya dari nenek. Kami biasa memanggilnya dengan panggilan mimih. Dan kami akan berpindah ke rumah mimih dari ayah karena beliau tinggal sendiri dan membutuhkan teman. Daerahnya masih satu desa dengan rumahku sebelumnya. Padahal bisa saja kami tetap tinggal di rumah ini dan sesekali menjenguk mimih. Namun, itu sudah menjadi keputusan mama dan ayah yang sangat bulat. Sehingga aku harus meninggalkan rumah masa kecilku yang menyimpan banyak momen-momen indah. Disinilah aku tumbuh dan berkembang secara fisik maupun psikis. 

Masa kecil yang penuh dengan kegembiraan. Ayahku sering mengajakku bermain bulu tangkis di sebrang halaman rumah. Aku selalu mengajak adikku untuk bermain sepeda atau bermain pasar-pasaran. Tetapi di rumah ini juga aku merasakan ketakutan ketika televisi rumah terbakar saat aku pulang mengaji akibat konsleting listrik meskipun tidak sampai membakar seisi rumah dan hanya televisi saja yang terbakar.

#
Setelah berpindahnya rumah kami ke rumah mimih, adik ayah pun ikut tinggal disini. Sehingga sangat penuh barang dan ruangan di rumah ini. Aku merasa terlalu berantakan dan kekurangan ruangan untuk tidur. Untungnya, kami semua masih bisa tidur dengan nyaman meskipun harus berdesakan.

Di setiap ruangan selalu ada banyak barang yang memenuhi ruangan dan aku merasakan ketidaknyamanan berada di rumah itu. Seperti tidak seharusnya dihuni oleh beberapa banyak orang karena terasa sumpek. 

FIRMAN

“put, aku mau curhat nih boleh nggak?”
“Curhat apa sha? Tumbenan kamu mau curhat sama aku.”
“Tapi jangan kasih tau siapa-siapa, aku malu.”
“Iyaa, tenang aja. Sok ayo mau curhat apa.”
Aku mendekatkan bibirku ke telinga Putri. “Aku suka sama Luthfi, put. Tapi, dianya suka dideketin sama Fitri. Aku ga suka liatnya put. Trus aku juga kalau liat Firman, kayaknya aku suka dia juga. Jadi gimana put?”
“Hah???” Teriak putri tepat saat aku selesai bercerita. Semua orang yang berada di dalam kelas tertuju kepadaku.
“Kenapa put?” Tanya Dina teman sebangku Putri. “Enggak papa, Din.” Jawabnya sambil tertawa kecil. “Kamu sih, ngapain teriak segala.” bisikku padanya.
“Aku kaget, kamu bilang suka sama Firman.” Aku menahan malu, semalu-malunya orang yang paling malu, karena baru kali ini aku curhat tentang cowok kepada sahabatku.

“Udah tenang aja, nanti aku bilang ke Firman, kamu diem di sini jangan kemana mana, oke?” kata Putri sambil berjalan meninggalkan aku dan pergi menemui Firman.

Saat itu, Firman sedang berkumpul bersama temannya di depan lapangan tenis. Dengan beraninya, Putri menghampiri Firman dan mengajaknya untuk berbicara sebentar. “Man.. sini dulu bentar!” Firman pun menghampiri Putri. Dan mereka duduk di serambi lagi lapangan tenis.

“Ada apa Put?” tanya Firman. “Nih ya, aku mau ngasih tau sesuatu  ke kamu, Man.” Nadanya merendah agar tidak ada yang mendengar percakapannya dengan Firman. “Ngasih tau apaan sih, Put?” tanyanya penasaran. “Shasa suka sama kamu.”
Beberapa detik kemudian, Firman tidak merespon perkataan Putri. Ia sepertinya sedang memikirkan kenapa Shasa bisa menyukainya, padahal dirinya juga suka Shasa. Meskipun dia sedang mengejar Trina, tapi tidak ada hasilnya.

“Hey!” Putri mengagetkan Firman dengan tangannya yang memukul pundaknya.
“Ehh.. anu itu Put, tolong kasih tau Shasa juga, kalau aku suka sama dia juga.” Entah kenapa yang keluar dari mulut Firman seperti itu. Membuat Putri langsung berlari menuju kelas sambil tertawa kecil sampai membuat orang di sekeliling aneh melihatnya. Dasar Putri..Putri.

Sesampainya di kelas, “Sha!!!” teriak Putri meskipun di kelas hanya ada Shasa, tidak ada siapa-siapa lagi.
“Apa sih Put? Teriak-teriak segala.” Kesalku. “Aku udah bilang ke Firman kalau kamu suka sama dia.” Whattttt? Gawat darurat ini mah. “Terus kata dia kenapa?” aku berusaha bersikap seperti biasa saja.
“Dia bilang, 'tolong bilangin kalau aku suka sama Shasa juga' gitu kata dianya. Hahaha wah jadi ini mah Sha, pokonya mah cocok kalian berdua.” Sambil menyubit pipimu.

Aku kesakitan karena cubitannya yang terlalu bertenaga. Ya mungkin karena bahagia, liat temannya bahagia.
Tiba-tiba geng Fitri dan teman-temannya memasuki kelas. “Ada apa ini teriak-teriak di kelas?” tanya Fitri.

“Fit tau ga? Firman sama Shasa udah jadian..” kata Putri tanpa berpikir panjang. “Wahhh berita hot nihh, semua orang harus pada tau nih..” kata Fitri sambil berjalan keluar kelas.
“Eh..Eh.. gausah disebarin informasinya.” Cegahku kepada Fitri. Namun Fitri dan teman-temannya berhasil keluar kelas.
Setelah beberapa menit kemudian, aku dipanggil Putri ke belakang mushola. Saat aku sampai di belakang mushola, aku sontak kaget. Ternyata disana ada Firman yang sedang menulis sesuatu di buku. Entah apa yang sedang ditulisnya.

“Sha, yang Putri bilang itu bener?” entah ekspresi apa dan muka aku seperti apa saat itu, aku tidak tahu. Yang pasti pipiku sudah matang seperti kepiting yang dibakar.
“Hmm..” aku tidak berani berbicara. Mulutku tidak mau berbicara. “Nyantai aja, Sha. Tenangin dulu hati kamu. Aku pengen tau dari kamu yang sebenarnya.” Kata-katanya membuat aku salah tingkah dan tidak bisa berkutik.
“Mann.. apa yang dibilang Putri tuh bener.” Aku terus menundukkan kepala agar mukaku tidak kelihatan kalau aku sedang malu. “Ohh jadi bener ternyata, aku seneng dengernya, Sha.”

Saat itu juga aku beranikan diri untuk melihat wajahnya. Saat aku melihat wajahnya, pas banget dia lagi senyum ke arahku. Saat itu aku berpikir, akulah orang yang paling bahagia di dunia ini. “Sha, boleh kan aku tulis namamu dan kamu tulis namaku di kertas ini?” Tanyanya memecahkan pikiranku yang melayang-layang. “Ehh..iyaa Man.”
Selesai menulisnya, kertas itupun ditanda tangani oleh kita berdua. 'Eh kita berdua hehe jadian berarti nih?'.
#
Setelah beberapa Minggu kemudian, kita semakin dekat dan sering pulang sekolah bersama.
“Sha, nanti pulang sekolah bareng aku ya pulangnya?” tanya Firman saat aku menyalin materi di papan tulis.
“Hmm iya, Man.” Jawabku dengan simple. Kulihat dia tersenyum senang karena mendengar jawabanku yang mengiyakan ajakannya.

Setelah bel pulang berbunyi, Firman menarik tanganku dan berjalan menuju gerbang sekolah. Di sekolah tidak diperbolehkan membawa kendaraan pribadi karena kita masih berusia 10 tahun.

Saat di perjalanan pulang, tiba-tiba Firman menghentikan jalannya, “Sha, kita ke supermarket dulu ya?” sambil memegang tanganku untuk mengalihkan jalannya agar menuju supermarket itu. “Mmm boleh Man.” Jawabku sedikit canggung.

Setelah berada di dalam supermarket tersebut, Firman membelikan es krim dan coklat kepadaku. Saat keluar supermarket, ia mengajakku duduk di depan supermarket itu. “Duduk disini dulu, Sha.” Ia memberikan ruang untuk aku bisa duduk, karena hanya ada 2 kursi dan jaraknya berdekatan. “Iyaa, Man.” Lagi-lagi aku canggung menjawab setiap ajakannya.

Sudah 1 jam kita mengobrol sambil menikmati es krim dan coklat yang tadi ia beli. Saat itu aku merasa senang. Karena ada orang yang menyayangiku dan membahagiakanku.
#
Setelah beberapa bulan kemudian. Saat aku berolahraga di sekolah. Kebetulan olahraganya bermain voli. Aku tidak satu tim dengan Firman. Namun Firman tetap saja mengawasiku dari kejauhan.
Saat berganti posisi, aku berpapasan dengannya. Dia di seberang net sana. Aku jadi salah tingkah dan akhirnya tim kami kalah.

Setelah permainan voli, guru olahraga memberi aba-aba untuk permainan selanjutnya. “Anak-anak, permainan selanjutnya yaitu lompat tali. Kalian akan bergantian kelompok dan bapak akan bentuk kelompok baru lagi.” Lantang guru olahragaku. “Siap pak!!” teriakan yang mengandung semangat 45 seorang pemuda pemudi yang membela negaranya.

Dalam permainan lompat tali ini, aku satu tim dengan Firman. Dan tim kamilah yang bermain terlebih dahulu. Aku selalu menunggu sampai terakhir lompatan dan mempersilahkan teman-temanku yang melompat lebih dulu.

Satu demi satu temanku game over karena tidak bisa melewati tali tersebut. Tersisalah aku dan Firman. Semua berteriak menyoraki aku dan Firman. Uhh kesal. Aku paling tidak suka diteriaki seperti itu. Dan saat aku ingin melompat, Firman juga melakukan lompatan sehingga kita berbarengan melompat. Untungnya diantara kita tidak ada yang gameover.
Setelah beberapa jam kemudian, tim kamilah yang memenangkannya. 'Yeyyyy makasih, Man'. Ucapku dalam hati.
#
1 tahun kemudian, aku beranjak dari kelas 5 ke kelas 6. Dimana saat itu, rasa sakit dimulai.
“Man, Trina Man..” tiba-tiba Fitri memulainya. Di kelas yang tidak ada gurunya mereka membuat kelas menjadi heboh. “Eh iya ya, Firman kan dulu naksir Trina, cinta pertama kan Man?” tanya Linda teman segengnya Fitri. “Iya ya, sampe ngejar-ngejar Trina kan meskipun Trina belum suka dan sekarang udah suka kan Tri?” tanya Fitri kepada Trina yang saat itu juga ada aku yang duduk di bangku paling belakang mendengarkan pembicaraan mereka. Sepertinya mereka mengetahui keberadaanku. Dan lebih tepatnya, mereka mengetahui aku ini pacarnya Firman.
Tapi kenapa mereka seperti memanas-manasiku di depan mataku sendiri. Aku akui Trina cewek pertama yang Firman sukai. Tapi dulu Trina telah membuat Firman menunggu dan akhirnya mengambil keputusan untuk bersamaku.

Sungguh saat itu, pertama kali hatiku merasakan sakit yang bukan biasanya. Yang biasanya aku sakit karena jatuh dari sepeda, sakit terkena pisau, sakit karena kehujanan, dan masih banyak lagi. Tetapi ini sakitnya lain dari yang lain.

Aku berusaha menghiraukan mereka dan berpura-pura membaca buku. Setelah beberapa menit kemudian. Linda menghampiriku dan memberiku selembar kertas. “Sha, ini ada surat dari Firman.” Setelah memberiku surat itu, ia langsung pergi meninggalkanku sendirian di kelas. Penasaran. Langsung saja aku membuka surat itu. Dan aku tersentak kaget. Kaget sekaget-kagetnya orang yang kaget. Entah angin dari mana, badai dari mana, suasana tenang-tenang aja. Tapi hati ini ga tenang.
Saat kubuka lipatan kertasnya. 'Putus' deg! Seperti ada halilintar yang begitu dashyat menghujam jantungku juga hatiku. Kukira itu candaan darinya, ternyata itu nyata, serius, Sha. Dengan hati yang kacau, kubalas surat tersebut panjang x lebar x tinggi. Namun tak ada balasan juga.
Kucoba memanggil Linda dan akhirnya dia menghampiriku. “Lin, coba tanyakan kepada Firman, kenapa dia mutusin aku? Apa karena Trina? Trina yang sudah bisa mencintainya?” tanyaku dengan nada bicara yang rendah hampir tidak terdengar.
“Hmm aku gatau, Sha. Maaf ya aku ga bisa membantu kamu.” Setelah berbicara seperti itu, ia langsung meninggalkanku sendiri lagi di kelas. Saat itu hati aku tidak karuan, nangis sejadi-jadinya. Tidak tau harus berbuat apa.
#
Setelah beberapa bulan kemudian, tepat di hari ulang tahunku, Firman hadir kembali mengingat masa-masa indah yang dulu diciptakan. Aku memberinya kesempatan kedua. Tapi semua itu tidak seindah dahulu. Hari demi hari, ada saja gangguan yang membuat aku dan Firman harus berselisih. Dio, temannya Firman meledeki Firman dengan kata 'Winda' adik kelas yang berkulit putih dan cantik itu.

Sampai-sampai, aku tidak menyangka kalau Linda menanyakan kebenarannya kepada Firman. “Heh Firman. Kamu tuh sebenarnya milih Shasa atau Winda? Dulu kamu nyakitin Shasa, sekarang masih belum puas nyakitin dia, hah?” teriak Linda yang membuat aku melongo secara tiba-tiba.
“Winda..” teriak Firman sambil ketawa kecil yang membuat Linda kesal. “Yang bener dong, Man?” sambil memasang muka cemberut. “Iya, iya aku milih Shasa.” Entah kenapa aku harus tenang atau khawatir saat Firman mengatakan seperti itu.
#
Hari demi hari, Minggu demi Minggu, bulan demi bulan, akhirnya aku akan meninggalkan sekolah ini. Sedih rasanya. Aku tidak bisa kembali menikmati masa-masa itu. Namun aku percaya, di depan sana, ada yang jauh lebih indah.
Sekarang, hari dimana semuanya ada yang bersuka cita, ada yang berduka cita. Hari perpisahan. Aku menampilkan tarian daerah bersama teman-temanku. Acaranya berlangsung meriah dan sangat mengesankan. Dan kita meninggalkan hubungan yang entah bagaimana akhirnya, seperti semuanya telah selesai.
~


Esempe

Teettt.. bunyi nyaring yang dikeluarkan dari speaker kecil namun terdengar sampe pelosok ruangan yang berada di SMPN 4 Nusa Bangsa. Semua calon siswa-siswi baru berkumpul di lapangan dengan keringat yang membasahi seragam namun semangatnya tetap ada.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu..” Sapa kepala sekolah dengan lantang.
“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatu..” para calon siswa baru pun tak kalah semangatnya. “Anak-anak, pagi ini kalian semua akan menjadi siswa dan siswa SMPN 4 Nusa Bangsa.” Gemuruh tepuk tangan yang berasal dari tangan-tangan calon siswa-siswi.
“Setelah upacara bendera sekaligus penerimaan siswa-siswi SMPN 4 Nusa Bangsa dilaksanakan. Kalian semua akan dibagikan kelas oleh panitia kurikulum penerimaan siswa-siswi baru. Paham?” “ Paham...” teriak para siswa.

Setelah kegiatan tersebut dimulai dan selesai tepat pukul 08.00. Panitia penerimaan siswa-siswi baru mengumpulkan calon siswa-siswi di aula. “Baik anak-anak, saya akan membacakan kelas beserta siswa yang berada di dalamnya.” Kata salah seorang panitia.
“Kelas 7A, ...” Hatiku mulai bergetar kencang seperti dikejar-kejar anjing. Aku tetap fokus pada panitia yang membacakan nama-nama siswa, tapi namaku belum juga terpanggil. Dan akhirnya namaku terpanggil di kelas 7E.

Saat aku memasuki kelas 7E, kupikir aku tidak akan ada teman, ternyata di kelas 7E masih ada teman se-SD. Tapi aku tidak sebangku dengannya, namun aku sebangku dengan seorang wanita yang berasal dari desa sebelah/tetangga.

Setelah beberapa lama, kita saling mengenal satu sama lain. Ternyata dia seru juga orangnya. Oiya sampai lupa, dia itu bernama Erma.
#
Setelah satu semester aku berada di kelas 7E, ternyata teman sekelasku ada yang menyukai. Dia tepat di belakang kursiku. Setiap hari dia selalu meminjam penghapus kepadaku. Terkadang sih bukan penghapus aja, pensil, buku, dan sebagainya.

Awalnya aku biasa saja menanggapi sikap dia. Tapi lama kelamaan risi juga gitu loh. Dan suatu hari, dia pernah manggil aku ‘yang'. Entah aku yang salah denger, atau dia yang salah ngomong.
“Yang, minjem penghapus dong.” Bidiknya tepat di belakang telingaku. Haaaa? Aku beribu-ribu penasaran. Sehingga aku tidak menjawab atau merespon apapun. Selain memberikan penghapus dengan posisi badan yang tetap lurus ke depan. Biasanya kan kalau dia pinjam apapun ke aku, posisi badanku menghadapnya. Tetapi kali ini, badanku serasa kaku saat mendengar kata itu.

Apa karena aku yang kebaperan. Tapi, biasanya dia panggil aku dengan namaku, ‘Sa' misalnya. Ah sudahlah, lupakan saja.
#
Setelah aku menurut ilmu di kelas 7E ini, akhirnya aku mendapat peringkat ke 10. Dimana saat aku berusaha melihat ke papan tulis dengan jelas. Namun nyatanya tidak bisa. Mataku mengindap penyakit min. Mungkin dari kelas 6 SD. Karena aku rasa, saat aku melihat ke papan tulis kurang jelas itu saat kelas 6 SD. Tetapi aku tidak menyerah dengan keadaan. Aku terus berjuang meski usaha aku untuk bisa jelas melihat ke papan tulis itu, sungguh besar!

Di akhir semester 2, peringkatku naik menjadi peringkat 7. Aku rasa usahaku tidak sia-sia. Setiap aku ibu guru menerangkan materi, aku selalu memperhatikannya. Setiap ada tugas atau kerja kelompok pun aku respon dengan semangat yang luar biasa. Hingga semangat aku terus ada di dalam diri.

Setiap pulang sekolah, aku selalu membersihkan kelas. Sampai-sampai temanku yang biasa pulang bareng pun kesal menunggu membersihkan kelas.
“Shasa... Ayo pulang!!” teriak Erma yang membuat aku mempercepat sapuan agar Erma tidak menunggu lama. “Iyaa, ma.. bentar lagi.” Setelah aku memasukan sampah ke dalam tempat sampah, aku berlari menyimpan sapu dan pengki. Lalu mengambil tas dan pergi menghampiri Erma yang sudah menunggu lama.
“Kebiasaan kamu ah, selalu aja membersihkan kelas setiap pulang sekolah. Kan sudah dapat jadwal piket, Sha.” Katanya sambil berjalan lemas dan bermuka kesal.
“Iya sih, cuma ya anak-anaknya ada yang ga piket. Ada yang piket tapi kurang bersih.” Responku membuat Erma tidak bisa berkata. Hihihi.. ada benarnya juga sih, karena dia juga jarang piket. Aku sih tidak bermaksud menyinggungnya loh.
#
Kenaikan kelas pun terjadi. Saat itu aku sedang menyukai salah seorang cowok, eh 2 orang cowok malah. Hahahaha. Cowok yang sekelas sama aku. Dia bernama Yana. Entah kenapa aku menyukainya, karena dia lumayan pinter, orangnya putih, ga begitu bandel. Geerku mulai memuncak saat dia menanyakan peringkat kepadaku.
“Saat, peringkat berapa?” tanyanya. Mungkin ini pembicaraan pertama kali diantara kita.

“Ke 7 Yan. Kamu sih?” sambil mempersilahkan dia duduk di sebelahku.
“Aku peringkat 10, Sha.” Sambil duduk dan menatap ke arah lapangan. Disana ada beberapa anak basket yang sedang latihan. Kebetulan hari ini, selesai pembagian rapot. Rapot tidak diambil orang tua, namun diberikan langsung kepada siswa. Sehingga aku bisa berlama-lama di sekolah karena acara pembagian rapot selesai siang hari.
“Oiya, kamu ga pulang Sha?” tanyanya sambil menengok ke arahku. Tetapi pandanganku tetap ke arah lapangan.
“Biasa Yan, mau kumpul-kumpul dulu sama anak OSIS.” Jawabku sambil menengok ke arah dia. Tepat. Mata kita bertemu. Kulihat ada diriku di matanya. Seperti sedang bercermin.

Beberapa detik kemudian, aku memalingkan pandanganku ke arah lapangan. Setelah itu, hanya ada keheningan. Tidak ada yang berani memulai pembicaraan lagi.
Tiba-tiba Yana berdiri, “Sha, aku pulang duluan ya?”
“Eh iya Yan, hati-hati ya.” Jawabku dengan singkat.
Aku melihat punggung dia yang lama-kelamaan menghilang dari pandangan. Setelah itu, aku pergi menuju ruang OSIS.
#
Sesampainya di ruang OSIS, pengurus OSIS sudah berkumpul semua.
“Sha, telat kamu kesininya. Tadi ketua OSIS ngelawak di depan kita semua.” Kata Eva sekertaris di pengurus OSIS. “Oyah? Hahaha sekarang kemana Dian nya?” tanyaku sambil melihat di sekeliling, siapa tau dia sedang bersembunyi. Tapi ternyata tidak ada.

“Dia dipanggil pak Asep.” Kata Eva sambil meneruskan pekerjaannya. Aku berjalan menuju kursi dan bekerja seperti biasa sebagai pengurus OSIS sekbid 4.
~


HOLIDAY

Yeyyyy akhirnya aku bisa menikmati kedamaian selama beberapa bulan kemudian ke belakang, banyak tugas, ulangan dan lain sebagainya yang membuat kepala pening dan sedikit stres.
Kali ini aku dan sekeluarga berlibur ke suatu tempat yang lain daripada yang laen. Yaitu ke museum topeng yang berada di kota sebelah.

Aku sangat menyukai kesenian. Jadi aku sangat bersemangat liburan kali ini. Setelah kami sampai disana, memang benar-benar indah dan unik tempatnya. Kami semua tidak menyesal berlibur ke tempat ini. Kami semua berfoto-foto dan makan bersama di salah satu taman sekitar museumnya. Pokoknya liburan tahun ini mengesankan. Sampai-sampai aku lupa akan masa-masa di sekolah.

Saat beberapa hari liburan sudah habis. Ada salah seorang cowok mengirim pesan lewat BM kepadaku. Isinya 'Sa, gimana kabarnya'. Setelah aku tanya-tanya kepada temanku, nomor yang mengirimkan pesan kepadaku, tetapi tidak ada yang tahu. Aku tidak membalasnya, namun beberapa menit kemudian dia mengirimkan pesan lagi. 'Ini aku Tegar, Sha'. Tegar?? Oh iya Tegar teman sekelasku yang duduk sebelahku. Dia yang suka menjaili aku saat nulis. Ga kapok-kapoknya buat aku kesal. Pernah saat aku selesai ke kamar mandi, saat kembali ke kelas, dia mengagetkanku di belakang pintu. Dia tertawa dan tersenyum manis (menurutku) kepadaku.

Ah, itu kenangan masa lalu. Kenangan beberapa minggu yang lalu sih. Cuma entah kenapa aku mengingatnya dan hal itu membuat hatiku sedikit gundah.
'Iya gar, Alhamdulillah kabarku baik, km sih?' akhirnya aku menjawab pesan darinya. Dari situ aku chatingan dengannya hampir setiap hari. Kita saling kenal dan akhirnya kita menjadi akrab dalam waktu 6 hari menjelang sekolah.
#
Liburan pun berakhir, akhirnya kembali ke rutinitas. Berangkat sekolah, bertemu teman-teman, mengobrol, bercanda dan tertawa bersama. Itulah yang aku sukai dari sekolah.

Suatu ketika saat aku kembali ke sekolah, aku melihat Tegar tersenyum padaku. Dia sedang berdiri bersama teman-temannya. Aku membalas senyum terbaikku untuknya. Setelah itu, dia menghampiriku, “Sha, boleh ngobrol bentar.”
“Iya boleh,” kami pun duduk di serambi kelas. Menunggu pengumuman pembagian kelas. Kami pun berbincang-bincang sambil sekali-kali tertawa. Ternyata Tegar tidak semenyebalkan itu. Tidak menyangka dia melihatku senyum-senyum sendiri. Ah, Tegar.
~


MASA PROAKTIF

Masa pembelajaran baru. Aku menempatkan kelas di kelas 8A. Tidak ada seorangpun yang sekelas lagi denganku dari kelas 7E. Semua benar-benar harus beradaptasi kembali dengan teman-teman yang baru.
“Assalamualaikum anak-anak.” Seorang perempuan memakai seragam batik, bersepatu mengkilat, dan bibirnya berwarna merah merona. Siapa dia? Dia ternyata wali kelasku. Bu Novi namanya.

Menurutku, saat pertama melihat wali kelasku itu orangnya galak dan judes. Ternyata Bu Novi tidak sama dengan pemikiranku.
“Waalaikumsalam warohmatullah hiwabarokatu.” Semangat yang dikeluarkan dari siswa 8A memecahkan genting-genting bangunan sekolah.
“Selamat pagi, ini baru pertama kali ibu mengajar kalian ya. Sejak di kelas 7, kalian tidak diajar oleh ibu kan?”
“Iyaa Bu..” lagi-lagi semangat siswa 8A menggelar. Tetapi, ada satu titik yang diam-diam memandangiku dari satu sudut.

Ada yang memperhatikan tingkah lakuku. Kuberanikan diri memandang setiap siswa, namun rasa maluku lebih besar dari rasa beraniku. Kuabaikan pandangan yang membuatku terganggu.
“Hey, namaku Shasa, kamu siapa?” tanyaku kepada seorang perempuan yang tidak berkerudung dan memiliki rambut yang panjang. Menurut aku sih bagus juga itu rambut.
“Eh, namaku Amy.” Dia menjulurkan tangannya. Otomatis tanganku meresponnya. Setelah berjabat tangan. Kita berbicara tentang diri masing-masing dan dalam waktu singkat kita menjadi akrab.
Aku sudah biasa, berkomunikasi dengan orang lain, sehingga mempermudah diriku untuk akrab dengannya.
#
Jam istirahat pun dimulai. Aku dan Amy duduk di serambi depan kelas.
“Sha, tau anak cowok itu kan?” telunjuknya mengarahkan kepada anak laki-laki yang berbadan tinggi, kekar, dan sedikit hitam manis.
“Engga mi, kenapa emang? Kamu naksir dia yaa?” tanganku menggelitikkan pinggangnya. Sehingga dia menjerit sedikit keras, dan cowok yang dimaksud menengok ke arah kita.

Ternyata dia tetangga sekelas. Namun kita berdua belum ada yang tau siapa namanya. Seperti nya Amy sedang berusaha mencari tau namanya. Dia menanyakan ke semua teman yang sekelas dengannya.
“De, cowok yang disana itu kamu tau namanya siapa?” tanya Amy kepada Deya, teman saat di kelas 7 nya.
“Yang mana mii?” sambil melihat kesana-kemari. “Itu loh yang lagi duduk di gazebo sana.” Semakin panjang telunjuk Amy, akhirnya Deya tau cowok yang dimaksud.
“Ohh, itu sih si Radit, mii. Kenapa? Kamu suka dia? Hahahaha.” Ketawanya membuat orang di sekeliling memperhatikannya. Terutama, cowok yang bernama Radit. Lagi-lagi cowok itu melihat ke arah Amy. Tetapi Amy tidak menyadarinya. Karena dia malu untuk melihat ke arah Radit. Aduh Amy... Ada-ada aja deh.
#
Setelah beberapa bulan kemudian, aku teringat dengan orang yang pertama kali memandangiku diam-diam. Ternyata, dia sering memandangiku dari kejauhan. Saat aku olahraga, dia terciduk melihatku. Saat makan di kantin, dia terciduk juga melihatku. Saat kegiatan belajar mengajar pun, dia terciduk sedang memperhatikanku. Aneh. Apa yang sedang dipikirkannya. Menurutku dia itu cowok pendiam, mungkin ingin berteman denganku, karena dia jarang bergabung dengan yang lain.

“Hey,” sapaku pada cowok yang ternyata dia yang memandangiku dari awal pertemuan. Aku duduk di depan mejanya.
“Eh iya, ada apa ya?” tanyanya dengan jutek. Waduh, jutek amat ini anak. “Oiya, nama kamu siapa?” jawabku berusaha mencairkan suasana. “Sahrul,” sambil membuka-buka buku. Entah apa yang dibaca atau lagi diapakan itu buku. Menurutku, dia seperti orang yang grogi dan salah tingkah. Ah, apa akunya yang kebaperan, hahaha.

“Oh, Sahrul. Salam kenal ya, namaku Shasa kalau kamu ingin tahu.” Dengan kepedean yang terlalu tinggi, aku memberitahu namaku tanpa dipintanya.

Setelah itu, aku berjalan menuju mejaku dan membuka buku pelajaran. Entah aku ketularan dia atau kenapa. Aku asal membuka buku dan pandanganku menuju arahnya. Dia sedang mengerjakan sesuatu. Entah itu soal atau apa. Aku amati, dia cowok pendiam dan cukup pintar. Setiap guru bertanya dia selalu mengeluarkan suaranya. Suaranya itu yang membuatku semangat dalam belajar. Entah ada energi positif darimana yang membuat semangatku on terus.
#
Waktu demi waktu berjalan, tidak terasa semester ganjil berlaku begitu saja. Kini kubuka lembaran baru di semester genap ini. Di tahun ajaran yang lalu, aku mendapat peringkat yang lebih baik dari kelas 7. Alhamdulillah.

Setelah kembali efektif kegiatan belajar mengajar, aku mencoba berjualan makanan ringan di sekolah. Sekedar senang aja sih. Dan akhirnya, alhamdulillah direspon baik oleh teman-teman sekelas juga di luar kelas.

Di saat jam istirahat dimulai, tiba-tiba ada seorang laki-laki bertubuh agak berisi dan tidak terlalu tinggi, kulitnya pun coklat tua. Dia duduk di depanku saat aku membaca novel. Tiba-tiba, dia menutupi bukuku yang sedang dibaca. Aku hanya bisa melihatnya dengan heran. Kenapa ditutupi? Pikirku.
“Kenapa?” tanyaku pada cowok itu. “Tidak apa-apa, kamu hanya terlalu fokus saja sampai-sampai aku duduk disini pun tidak dilirik sedikitpun.” Sambil mengembalikan tangannya.

Aku hanya melemparkan senyum padanya. Dia hanya senyum-senyum sendiri serasa berpikir, kenapa aku senyum.
“Sha, minta kontaknya dong.” Wanjirrr, ini cowok frontal banget. Aku hanya membalasnya dengan menggelengkan kepala.

“Dih ayoo..” sambil berusaha memegang tanganku, dengan jurus cepat kilat aku menghindar dari serangan itu. Hahaha.
Dia berjalan dan berpindah tempat duduk di sebelahku. “Ayo Sha, ga akan disebarkan kemana-mana kok.” Sambil berusaha mendekatiku. Namun aku memindahkan sedikit kursiku menjauhihnya.

Akhirnya dia nyerah dan pergi bergabung bersama temannya. Ehh, ternyata disana ada Sahrul, ternyata cowok tadi temanan sama Sahrul. Tidak menyangka selama 1 semester aku baru mengetahui. Padahal sekelas, apa akunya yang terlalu fokus di kelas.
#
Saat selesai mengerjakan pr, aku merentangkan badan dan bersandar di tempat tidurku. Rasanya tugas tidak pernah mau pergi meninggalkanku. Selalu ingin bersamaku. Tiba-tiba, ada notifikasi masuk yang muncul di hpku.
'Assalamualaikum, Shasa. Ini aku Abdul yang minta kontakmu. Akhirnya aku mendapatkannya. Hebat kan aku? Hehehe'
Whattttt?? Darimana dia mendapatkan kontakku? Apa dari Amy? Coba kutanyakan padanya.

'Mii, kamu kasih kontakku ke Abdul ya?' klik. Pesan terkirim.
Duh... Ini orang kenapa sih. Ngebet banget sama aku. Tapi lucu juga sih, baru SMP sudah punya fans. Hehehe.
Tutttt... Notifikasi masuk.
'Iya, Sha. Maaf ya.. soalnya aku diancam sama Abdul. Hihihi. Tenang aja ko, Abdul baik ko:)'
Waduh... Aku menepuk jidatku dan membiarkan badanku terlentang di kasur. Rasanya lelah dan penat saat ini yang aku rasakan. Dengan tidak sadar, aku tertidur meninggalkan pesan dari Abdul.
#
Keesokannya, di sekolah dia terus menanyakan kenapa aku tidak membalasnya. Dari pagi sampai pulang sekolah, terus saja mengikuti kemana aku pergi. Namun, aku juga tidak rela mendiamkannya.

Saat jam pulang, aku membereskan tas dan berjalan menuju keluar kelas. Tiba-tiba tasku seperti ada yang menariknya.
“Sha, bentar-bentar. Mau ngomong bentar.” Ternyata Abdul yang menariknya. Rrrrghh. “Iyaa, apa?”
“Nanti aku chat kamu ya, tapi sama kamu bales Sha? Ya..ya?” Melihat mukanya yang kurang perhatian, aku membalasnya dengan anggukan yang menandakan kata 'iya'. Kemudian aku berjalan keluar kelas menuju ruang OSIS.
#
Disana tidak terlalu banyak pengurus OSIS yang sedang berkumpul.
“Yang lain pada kemana?” tanyaku pada Eva.
“Lagi pada jajan, Sha. Sini duduk aja dulu.” Katanya sambil bergeser memberi ruang agar aku bisa duduk.
Setelah beberapa menit kemudian, ketua OSIS dan yang lainnya berkumpul. Rencananya kami semua akan mengadakan evaluasi program sekbid.
Setelah berkumpul semua di kelas yang kosong. Ketua sekbid melaporkan kerjanya dan keluhannya.
Tidak menghabiskan waktu yang lama. Cukup 1 jam 30 menit evaluasi selesai. Dan aku berjalan meninggalkan sekolah menuju rumah.
#
Beberapa minggu kemudian, tiba-tiba denah tempat duduk di rolling oleh wali kelas. Agar kita semua saling akrab dan saling memahami.

Tak diduga-duga, Sahrul duduk di seberangku. Jadi mengingatkan aku pada kejadian diawal aku masuk ke kelas ini.
Saat kegiatan belajar mengajar dimulai, tiba-tiba penghapusku jatuh di antara aku dan Sahrul.

Awalnya aku hanya diam saja. Tetapi lama kelamaan, penghapus itu tidak ada yang mengambilnya. Aku sih tidak menunggu Sahrul yang mengambilnya. Cuma aku belum selesai menulis.

Tiba-tiba... Setttt, penghapus itu sudah berada di atas mejaku. Aku menengok ke Sahrul. “Terimakasih,” ternyata dia yang mengambilnya, bukan aku. Balasannya hanya anggukan simple. Ya simple.

Tidak hanya kejadian itu saja, hari-hari berikutnya saat guru memanggil siswa yang paling belakang barisan tengah, aku dan Sahrul otomatis menengokkan kepala ke belakang dan setelah itu, diakhiri dengan mata yang saling memandang.

Aku berusaha menyadarkan diri dan fokus kembali ke pelajaran. Aneh. Ada sesuatu yang tersembunyi di matanya. Aku bukan paranormal atau apapun, tetapi aku bisa membaca apa yang ada di matanya. Ah sudahlah. Mungkin perasaanku saja yang terlalu tinggi.

Tidak hanya itu kejadiannya, ada lagi saat aku ingin berdiri karena jam istirahat sudah dimulai. Awalnya sih kita (aku dan Sahrul) sibuk masing-masing membereskan peralatan belajar yang ada di meja. Namun tak disangka-sangka,  pergerakan itu otomatis berbarengan. Aku berdiri dan hendak berjalan menuju ke depan, dia pun melakukannya.

Tik tok tik tok.. beberapa saat hanya terdengar getaran jam pada saat itu. Aku menunduk tidak berani menatapnya.
“Kamu duluan aja,” suara yang khas di telingaku membuat jantung berdetak lebih cepat.
“Eh, iya. Kamu aja dulu,” sambil menundurkan diri, memberi ruang aahr dia bisa melangkah lebih dulu.
Tidak ada jawaban apapun, hanya ada suara hentakan sepatunya. Ah, apa yang telah terjadi? Banyak banget kejadian aneh yang terjadi selama ini. Ada apa? Apa maksud dari semua ini? Ah, semoga suatu saat nanti terjawab pertanyaanku.
#
Setelah satu semester berlalu, kini saatnya pembagian raport. Raport dapat diambil oleh orang tua siswa. Alhamdulillah ayahku bisa mengambil raport meskipun dia sibuk bekerja.

Saat pembagian raport dimulai, ayahku duduk dengan ayahnya Sahrul. Entah apa yang dibicarakannya, seperti sudah saling kenal.

Saat pembagian raport selesai, aku menghampiri ayahku, dan bertanya tentang raportku. Alhamdulillah aku mendapatkan peringkat yang lebih baik lagi dari sebelumnya.
“Ayah tunggu di parkiran ya?” kata ayah kepada sambil menyerahkan raportku.
“Iyaa ayah,” aku memasuki kelasku dan bergabung bersama temanku yang lainnya.
“Sha, kamu dapet peringkat berapa?” tanya Sahrul yang membuyarkan pikiranku saat melihat hasil raportku.
“Alhamdulilah dapet peringkat kedua, Rul.” Sambil membuka lembaran raport.
“Wow, hebat. Selamat ya.” Aku sempat melihat bibirnya yang membentuk huruf o dan tangan yang hendak berjabatan denganku.

Aku merespon jabatannya. “Iya, sama-sama Rul. Oiya, kamu sih?” tanyaku balik.
“Hmm masih di bawah kamu, hahaha.”




Tunggu kelanjutannya guys😄

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teks Editorial tentang Kebiasaan Mencontek