Cerita Pendek
Motivasi Menjadi Prestasi
Teett... aku berlarian menuju kelas saat bel masuk berbunyi. Entah apa yang aku rasakan saat itu. Gelisah, khawatir. Saat tiba di depan pintu kelas, ternyata ada temanku yang sedang berdiri di depan pintu kelas.
“Sedang apa kamu disini? Mengapa kamu tidak masuk kelas saja?” tanyaku padanya.
“Shuttt... di dalam sudah ada pak Sugi, kita tidak bisa masuk ke dalam jika pak Sugi sudah berada di dalam kelas lebih dulu,” bisiknya padaku.
Aku termenung mendengar penjelasan temanku yang membuat irama jantungku menjadi lebih cepat. Duh bagaimana ini, bisa-bisa kena hukum pak Sugi yang terkenal dengan kekillerannya itu. Hatiku merasa takut akan hukuman yang diberi pak Sugi kepadaku juga temanku.
“Apa kita tidak mencoba saja meminta ijin kepadanya untuk masuk kelas?” tanyaku dengan keyakinan yang kuat.
“Kamu tau sendiri pak Sugi itu killernya nggak ketulungan. Kalau beliau menghukum siswa itu tidak tanggung-tanggung. Coba kalau beliau menghukum kita lari keliling lapangan sampai jam pelajarannya habis, bagaimana? Apa kamu mau melakukannya? Aku sih nggak mau! Mana cuacanya panas, nanti kulit putihku berubah jadi hitam gara-gara lari keliling lapangan,” ucapnya dengan panjang lebar.
Mendengar ocehannya yang membuat aku risi dan ingin segera mengetuk pintu dan meminta ijin untuk masuk kelas kepada pak Sugi.
Akhirnya, tok tok tok... tanganku bergetar mengetuk pintu kelas. Saat pintu tersebut terbuka, aku langsung menundukkan kepala agar tidak berpandangan dengan pak Sugi.
“Ada apa ini? Kamu anak kelas berapa?” tanyanya dengan tegas.
“Saya anak kelas yang sedang bapak ajar pak. Bolehkah saya ijin masuk pak?” tanyaku dengan suara yang hampir tenggelam.
“Enak saja kamu, sudah telat mau masuk kelas gitu saja. Sudah-sudah sekarang kamu berdua masuk ke kelas IPS 1, berdiri di belakang kelasnya sampai jam pelajaran saya selesai,” kata pak Sugi yang membuat aku sontak kaget dan merasa lemah seketika.
Setelah jam pelajaran pak Sugi selesai, aku kembali ke kelas dengan wajah yang tidak bersemangat. Aku merasa tertekan sekali atas kejadian itu. “Sudah Ra.. jangan dipikirkan terus, cuma masalah kecil ini. Jadikan semua ini sebagai motivasi kamu untuk lebih baik lagi,” ucap teman sebangkuku yang membuat aku menjadi semangat kembali.
Esoknya, aku tidak mengingat-ingat kejadian itu dan memulai hari-hariku seperti biasa lagi. Bercanda gurau bersama teman-temanku. Hari ini di kelasku ada pelajaran Matematika yang aku suka. Aku menyukai Matematika juga kepada gurunya aku sangat menyukainya, karena dia orangnya santai dan teratur menyampaikan materinya.
“Selamat pagi, anak-anak!” sapa Bu Ami yang setiap pelajarannya membuat aku siap untuk belajar.
“Pagi Bu!” mungkin suaraku yang terdengar lebih keras menjawab sapaan Bu Ami.
Hari demi hari, aku begitu sangat menyukai matematika. Jika ada pelajaran kosong, kusempatkan untuk membuka buku matematika atau pergi ke perpustakaan untuk mencari informasi tentang materi matematika lebih jauh lagi.
Suatu ketika, aku dipanggil Bu Ami untuk menghadapnya di ruang guru. “Assalamualaikum Bu?” kataku dengan sopan.
“Waalaikumsalam, silakan duduk,”
“Iya Bu. Terimakasih,” Akupun duduk di kursi yang telah disediakan.
“Berhubungan sekolah kita akan mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN) Matematika. Menurut ibu, kamu bisa mewakili sekolah kita untuk mengikuti OSN tersebut. Untuk bimbingan dan arahannya, akan saya berikan setiap satu minggu dua kali. Untuk harinya bisa kamu pilih mau hari apa saja,” Jelasnya.
Saat itu, jantungku bergetar tidak karuan. Seperti aku sedang menaiki kora-kora yang ada di pasar malam. Perlahan aku menenangkan detak jantungku, lalu aku menjawabnya.
“Hmm.. sebelumnya makasi bu, udah mempercayai saya. Insya Allah saya akan berusaha semampu saya,” Rasa syukur, rasa kaget, rasa senang bercampur menjadi satu, itulah Indonesiaku, hehe. Aku berjuang mati-matian belajar semalaman demi meraih yang terbaik.
Karena waktunya tinggal 2 minggu lagi. aku terus belajar dan dibimbing oleh Bu Ami. Tak lelah dan tak pantang menyerah aku melewati setiap soal demi soal. Akhirnya waktu pun telah tiba. Aku menempati kursi yang telah disediakan di dalam suatu kelas. Dan dengan hati-hati aku membuka soal dan berdoa, ya Allah, aku hanya berharap bisa memberikan yang terbaik untukku, untuk sekolahku, dan untuk keluargaku, aminn.. Dengan semangat menggebu-gebu aku menyelesaikan soal demi soal dengan lancar. Meskipun ada beberapa soal yang sulit aku selesaikan.
Setelah waktu pengerjaan soal selesai, aku berkumpul bersama temanku yang satu sekolah. “Eh.. mantap ternyata soal-soalnya. Mematikan hahaha..,” ucapku sambil mendorong pelan temanku. “Iya kamu teh, ada aja soal yang menjebak kita, tapi untungnya aku bisa menyelesaikannya,” Kata Linda. “Yaa menurutku sih, soal-soalnya biasa saja seperti belajar di kelas,” kata Dika, cowok diantara kita yang merasa dirinya hebat.Namun dia selalu bersikap optimis dalam menghadapi permasalahan hidupnya. Aku salut. Seperti nya aku harus belajar berpikir optimis seperti dia.
Tak lama kemudian, guru pembimbing kita menyuruh kami makan siang di warung bakso dekat sekolah yang dijadikan tempat OSN. Dan setelah makan siang, kami pulang menuju sekolah kami.
Hari demi hari berganti, suatu ketika kelasku heboh dengan tugas Pak Sugi. “Ra, udah belum pr fisika? Liat dong!” kata Reni sebangkuku. “Iya Ra, ayo bagi-bagi. Berbagi itu indah loh!” kata Wisnu, cowok ternakal dikelas. “Iyaa, ayo liat,” kata temanku yang lainnya. “Sudah sudah, nanti Pak Sugi marah kalau pr kita sama semua. Bisa-bisa kena hukum lagi,” jawabku sambil mengabaikan mereka.
Tiba-tiba Wisnu datang dari luar kelas, “Hei, ada bapak, ada bapak,” sambil berlarian menuju mejanya. Seketika sekelas heboh berusaha kembali ke tempat duduknya. Hening. Tidak ada siswa yang bergerak sedikitpun. Mungkin ada orang yang ingin bersin pun, menahannya dahulu. “Mana katanya ada bapak?” tanyaku dengan kesal setelah menunggu ketegangan suasana di kelas. “Yaa, bapaknya ada di kantorlah, hahaha..,” kata Wisnu sambil menahan sakit perutnya karena ia tertawa terbahak-bahak. “Yeee, gimana sih kamu. Jail terus orangnya,” kataku dengan muka kecewa. Itulah suasana kelasku saat pelajaran Pak Sugi akan dimulai.
Dan ternyata benar, Pak Sugi datang. “Assalamualaikum,” tegasnya. “Waalaikumsalam warohmatullah hiwabarakatu,” serempak siswa sekelas menjawab. “Cepat sekarang kumpulkan tugas masing-masing di depan. Bagi siswa yang tidak mengerjakan tugas, harap memisahkan diri di depan kelas,” jelasnya. Lho kok? Buku tugas aku tidak ada ya. Aku berusaha mencari buku tugasku di tas, di kolong meja, tapi hasilnya nihil. Coba kutanya kepada Reni, “Ren, kamu lihat buku tugasku nggak?” “Nggak tuh Ra, tadi kan sama kamu disimpan di kolong meja,” jawabnya. Duh, bisa gawat nih. Nanti Pak Sugi bakal hukum aku lagi.
Kuperhatikan Pak Sugi dari kursiku. Ia sedang memeriksa buku tugas yang dikumpulkan. “Hmm.. ada 1 orang yang belum mengumpulkan tugas. Yang belum mengumpulkan tugas coba angkat tangannya?” aku gemetar, berkeringat dingin ingin ku mengangkat tangan, namun ragu untukku lakukan. Hening seketika. Tidak ada satupun orang yang mengangkat tangan. “Ohh.. ternyata kalian mau lari supaya badan kalian sehat toh?” tanyanya. “tidak pak, tidak!” sorak siswa sekelas. “kalau kalian tidak mau lari, siapa yang tidak mengumpulkan tugas?” detak jantungku semakin menaik iramanya. Sampai berat hatiku mengangkat tangan.Dan akhirnya, “Dengan senang hati, bapak ijinkan kalian lari keliling lapangan sekarang juga,” kata Pak Sugi sambil tersenyum sinis.
Dengan hati terpaksa, kita semua sekelas lari keliling lapangan. Di tengah perjalanan berlari, banyak siswa bersorakan dan menertawakan kita semua. Sungguh, disitu aku merasa bersalah. Karena aku merasa sudah mengerjakan tugasnya, tetapi buku itu tidak tau kemana perginya. “Ra, kamu sudah mengumpulkan tugasnya?” tanya Reni. “Eh, belum Ren, aku belum menemukan bukunya.” Bisikku kepadanya. “Siapa coba yang jail sama kamu, kan bahaya kalau dijailin bisa-bisa Pak Sugi marah. Jadi saja kita kena hukum semua.” Setelah kejadian itu, sekelas lebih berhati-hati lagi dalam menjaga barang apapun yang bersangkutan dengan guru.
Tidak di pelajaran fisika, kelas kita pun menjadi langganan guru untuk marah dan menghukum kelas kita. Entah karena hal apa, kita sekelas sudah berusaha yang terbaik untuk dipersembahkan kepada guru. Saat pelajaran kimia pun sempat-sempatnya kita sekelas kena hukuman. “Baik anak-anak, sekarang kita mulai bab baru, yaitu kimia unsur. Apakah kalian sudah belajar tadi malam?” tanya Bu Susan, guru kimia paling terkiller kedua dari guru fisika, menurut kelas kita. Hening. Tidak ada yang menjawab apa yang ditanyakan oleh Bu Susan. “Kenapa kalian semua tidak menjawab? Apa memang tidak ada seorangpun yang belajar tadi malam?” kali ini tidak ada yang menjawab lagi, hanya ada bisikkan suara yang hampir tenggelam. “Ibu tuh sedang berbicara dengan manusia kan? Bukan sama hewan ataupun tumbuhan?” kali ini Bu Susan sudah tidak sabar. “Iya bu, sama manusia.” Serentak sekelas menjawab. “Iya, kenapa kalian tidak menjawab pertanyaan ibu tadi? Apa kalian sudah merasa pintar dan tidak perlu belajar?” nada Bu Susan hampir membangunkan siswa yang hampir tidur alias ngantuk berat. “Sudahlah, percuma ibu bertanya terus kepada kalian, tetapi tidak ada yang mau menjawab. Sekarang kalian kerjakan lks bab kimia unsur, kalian pelajari sendiri karena kalian sendiri sudah beranggapan kalian pintar dan tidak usah belajar. Cukup sekian dari ibu, selamat mengerjakan jika ada yang kurang mengerti bisa diskusi. Terimakasih wassalamualaikum warohmatullah hiwabarokatu.”
Anehnya, setelah Bu susan keluar dari kelas, anak-anak bersorak gembira menyambut kabar gembira (menurutku sih kabar buruk) bagi anak-anak yang menginginkan kebebasan dari kantuk yang melanda saat guru menerangkan, malah bersorak ria karena Bu Susan tidak mengajar dan malah memberikan tugas.
Namun mereka tidak mengerjakan tugasnya, malah enak-enakan ngobrol sana sini tidak memikirkan ke depannya. “Ren, bilangin ke mereka, suruh kerjakan tugasnya, nanti Bu Susannya malah tambah marah,” kataku kepada Reni. Reni langsung menuju keluar kelas dan berbicara kepada mereka. “Hey cepat kerjakan tugas Bu Susan, nanti kalian bisa dimarahi atau dihukum.” “Urusan tugas mah gampang Ren,” teriak Wisnu. Iya gampang, kalian kan sukanya menyontek, tanpa berusaha sendiri untuk mengerjakan sesuai kemampuan. Kataku dalam hati setelah Reni kembali ke kursinya.
Mungkin begitulah sikap mereka terhadap tugas, yang membuat kelas kita menjadi bahan ocehan guru-guru untuk marah dan memberi hukuman.
Tetapi ada satu guru yang disukai oleh kelas kita, yaitu wali kelas kita sendiri, Bu Lin namanya. Setiap beliau mengajar, kita semua hampir mengantuk namun kembali bersemangat karena Bu Lin suka bercanda di tengah pelajarannya. Dan jikalau pelajarannya terakhir, beliau menghentikan pelajarannya sebelum jam pelajaran habis. Karena mungkin Bu Lin peka terhadap kita. Kita sudah capek, lelah, letih, lapar, dan haus, maka beliau mengizinkan kita untuk menyelesaikan pelajarannya lebih awal.
Ada kalanya siswa-siswi mengobrol dan nonton film jika pelajaran kosong. “Hey ada yang punya film seru nggak?” tanya salah satu temanku. “Aku ada nih, seru sekaligus serem,” jawab temanku yang sering menonton film-film horor. “Aku nggak mau film horor-horor, komedian aja biar seru,” kata Reni tiba-tiba ikut gabung bersamanya. “Yaah.. nggak menantanglah kalau komedian mah. Kalau mau nggak mau nonton yasudah, jangan nonton,” Aku senyam-senyum sendiri mendengar ucapan mereka. Lucu juga ya, Reni, sudah gede masih aja takut yang begituan. Padahal kan, yang namanya setan itu memang ada, namun beda alam dengan kita.
“Ra, ayo gabung sini!” ajak Reni sambil mendorong kursi agar ia bisa duduk dan menonton film yang diputar oleh temannya. “Lah.. katanya nggak mau nonton film yang horor-horor, tapi malah ngajak-ngajak aku buat nonton,” ledekku kepada Reni. Reni hanya cemberut mendengar ocehan aku. Akupun mendekat dan bergabung menonton film yang katanya seram. Namun setelah aku menontonya, biasa saja. Tidak terlalu menyeramkan.
Tiba-tiba setan di dalam film tersebut mengagetkan kita semua. Serentak kita teriak, “Aaaaaaaaa.....” kita semua berkeliaran, ada juga yang hanya menutup matanya, ada juga yang berpelukan, sedangkan aku hanya pergi tidak jauh dari mereka.
Setelah kejadian itu, “Hey, pelajaran apa kalian?” tiba-tiba Pak Sugi datang ke kelas kita. “Pelajaran Pak Aris pak, ehh pelajaran Seni Budaya pak,” aku menjawab pertanyaan Pak Sugi. “Ada nggak Pak Arisnya?” tanya Pak Sugi lagi. “Pak Arisnya ada keperluan pak, beliau memberi hanya memberi tugas kepada kita,” jawab ketua kelas, Herdianto. “Sudah dikerjakan apa belum tugasnya? Malah pada ngobrol dan teriak-teriak mengganggu kelas sebelah.” “Iya pak, kami semua minta maaf, tugas Pak Aris sudah kami kerjakan semua,” jawabku. “Yasudah, jan ribut-ribut, ketua kelas dan seksi keamanannya, tolong jaga keamanan kelas!” kata Pak Sugi sambil meninggalkan kelas dan kembali ke kelas sebelah untuk kembali mengajar.
“Huhhhh...” terdengar suara desahan dari anak-anak sekelas. “Hampir saja kita semua kena hukum Pak Sugi lagi,” kata Herdianto. “Iya, alhamdulilah Tuhan berpihak kepada kita semua,” kataku sambil tersenyum.
Tidak lama dari itu, terdengar suara hentakan kaki yang sedang berlari. Anak-anak sekelas melihat keluar, berkeinginan untuk mencari tahu suara apa yang mereka dengar. Ternyata, anak kelas sebelah dihukum lari keliling lapangan oleh Pak Sugi. “Mungkin karena mereka tidak mengerjakan tugas,” kata Reni. “Mungkin juga karena mereka tidak menjawab atau salah menjawab pertanyaan yang Pak Sugi tanyakan,” kataku juga. Kemungkinan-kemungkinan muncul dipikiran kita. sedangkan laki-laki di kelas kita, malah menertawakan mereka yang sedang berlari. Sampai-sampai ketawanya terdengar oleh Pak Sugi. Pak Sugi berjalan menuju kelasku. “Kalian semua mau ikut-ikutan lari juga seperti mereka?” tanya Pak Sugi. “Tidak pak...” jawab kita dengan serempak.
Banyak momen-momen yang berkesan bersama Pak Sugi. Meskipun semua itu terlihat negatif dimata orang lain. Namun aku sedikit termotivasi dari Pak Sugi. Sehingga aku semangat dalam mengerjakan tugas Pak Sugi. Sampai-sampai ada yang mau diajarkan olehku cara menyelesaikan tugas Pak Sugi.
“Ra, boleh nggak ajari aku tugas fisika?” pinta Reni. “Hmm.. boleh Ren, tetapi aku juga belum begitu bisa mengerjakan soal-soal fisika, kita sama-sama belajar saja, Ren,” jawabku. “Oke deh, nanti kamu yang ke rumah aku boleh ya?” pinta Reni lagi. “Oke,” jawabku dengan singkat. Sebenarnya sih, aku belum bisa atau fasih dalam pelajaran fisika. Aku saja masih butuh bimbingan guru yang di les. Tetapi, apa salahnya kalau aku juga berbagi ilmu dan sama-sama belajar agar ilmu yang aku dapatkan lebih diingat dalam jangka waktu yang lama.
Aku berjuang mati-matian pergi ke tempat les untuk mendapatkan bimbingan fisika dan alhamdulilah aku bisa mendapatkan ilmu yang belum aku ketahui. Setelah aku mendapatkan pencerahan, akhirnya aku bisa mengajarkan temanku yang meminta diajarkan fisika olehku. Aku sangat bersyukur bisa memberi atau mengamalkan ilmu yang aku peroleh. Walaupun itu hanya sedikit yang aku peroleh, tetapi aku sangat bersyukur masih bisa diberi kemudahan untuk mendapatkan ilmu.
Ada beberapa orang teman yang diminta untuk diajarkan fisika olehku. Padahal aku tidak terlalu pintar, bahkan ada temanku yang lebi pintar dariku. Mengapa mereka tidak meminta diajarkan kepadanya? Disitu aku merasa bahwa aku berguna bagi orang lain. Lewat semua ini aku merasa kebergunaanku diakui oleh orang lain.
Namun, hasil dari semua itu tidaklah menghasilkan yang memuaskan juga membanggakan. Saat tugas fisika diperiksa, aku selalu mendapatkan nilai yang kurang memuaskan. Selalu kena hukuman dari Pak Sugi. Tetapi temanku yang meminta diajarkan, malah mendapatkan nilai yang cukup memuaskan. Aku sangat merasa Allah tidak adil terhadapku. Aku sampai nangis di depan Pak Sugi saat beliau memvonis aku untuk remedial. “Sudah Ra, belajar lebih giat lagi,” katanya yang membuat hatiku makin ingin menangis dan teriak. Kenapa bapak bicara begitu? Seharusnya bapak tidak usah peduli terhadapku. Hatiku sangatlah sensitif.
Berkali-kali aku dikecewakan oleh fisika. Aku sudah belajar dengan sungguh-sungguh. Banyak pengorbanan yang aku perjuangkan demi bisa mendapatkan hasil yang memuaskan. Namun benar adanya, Allah tidak menilai hasil, Allah lebih menilai prosesnya. Tetapi aku merasa capek jika aku memikirkan sesuatu yang berkaitan dengan penilaian manusia.
Setiap tugas fisika diperiksa, harus ada beberapa orang yang maju ke depan dan menyelesaikan tugasnya pernomor juga harus bisa menjelaskannya. Aku berkali-kali selalu kena hukuman Pak Sugi. “Ayo, sekarang maju 4 orang untuk menyelesaikan tugasnya di papan tulis,” saat Pak Sugi berkata demikian, hatiku gemetar tidak karuan, seolah-olah dihadapkan dengan binatang buas yang siap menerkamku. Aku tidak memiliki keberanian yang sangat kuat jika dihadapi dengan Pak Sugi. Majulah temanku yang lain dan mereka bisa menghadapi pertanyaan yang Pak Sugi tanyakan kepada mereka atau bisa dibilang diminta pertanggung jawaban atas tugas yang dikerjakannya. Aku juga pernah maju ke depan. Alhasil, kena marah, kena pukulan, dan mendapatkan nilai yang kurang memuaskan. Entah karena aku kurang berkomunikasi dengan temanku yang mengikuti les di Pak Sugi. Sehingga hasilnya pun kalah dengan jawaban yang mendominan di kelas. Dan sebenarnya yang dominan itu belum tentu benar.
Dari kejadian itu semua, aku merasa berubah. Sikapmu menjadi mudah pemarah, pesimis dan mudah menyerah. Seakan-akan aku tidak memiliki tujuan, cita-cita, impian, dan keinginan yang hendak kuraih.
Melihat dari semua kejadian itu, nilaiku jauh berubah dibanding dengan semester lalu. Nilaiku pun jauh berbeda di bawah teman-temanku. Bisa dibilang dengan teman yang biasa-biasa saja, bahkan dengan teman yang malas saja, nilaiku jauh di bawahnya. Ingin aku menangis dan teriak. Aku tidak tahu harus bagaimana. Jika aku terus memurungkan diri dan semangatku, mungkin aku tidak akan berubah menjadi lebih baik lagi.
Ketika pelajaran Bu Lin, wali kelasku. “Anak-anak, sekarang ibu tidak akan mengisi pelajaran dengan materi. Tetapi ibu akan sharing-sharing dengan kalian,” jelas Bu Lin. “Yeeeee...” sorak sekelas, seperti dipasar saja. “Oke baik, jangan ramai, kita santai saja biar tidak mengganggu kelas sebelah,” kata Bu Lin. Semua anak-anak duduk mendekat di lantai dan membentuk lingkaran besar. Seperti ingin makan bersama. Sayangnya di tengah-tengah kita tidak ada makanan ataupun minuman. Hanya ada satu manusia, eh manusia. Ada satu orang guru, yaitu Bu Lin.
Menurutku, Bu Lin sangat akrab dengan orang lain. Nyatanya, kita muridnya sering diperhatikan. Mulai dari siswa yang tidak masuk, yang jarang bolos pelajaran, yang sering dihukum guru, yang jarang piket, yang jarang bayar kas, dan banyak hal lagi.
Kembali kepada Bu Lin yang ingin sharing dengan muridnya. “Baik, kita mulai curhat kita dari Ketua Murid, Herdianto,” pinta Bu Lin. Herdianto kaget seketika. Ia tidak tahu harus berbicara apa. “Hmm.. mungkin permasalahan kelas kita, ada di Pak Sugi, Bu. Kita hampir sering kena hukumannya. Bahkan sudah makanan sehari-hari kita dihukum,” jelas Herdianto. Bu Lin hanya tersenyum mendengar penjelasan dari Herdianto yang menurutnya mewakili semua siswa yang sedang berkumpul. “Ibu mengerti apa yang kalian rasakan. Ibu juga tahu apa saja yang harus kalian lakukan. Kalian semua pasti mendapatkan tugas dari setiap guru?” tanya Bu Lin. “Iya bu, pasti itu mah,” serentak semua siswa menjawab. “Iya bu, sudah menjadi rutinitas kita di sekolah mendapatkan tugas dari guru-guru,” tambah Wisnu. “Benar itu bu, kita seperti robot, terus dimainkan tanpa ada henti-hentinya,” tambah lagi teman sebelahnya. “Dengar anak-anak, semua yang guru-guru berikan itu suatu saat nanti akan bermanfaat di lain waktu. Entah besok, lusa ataupun masa yang akan datang,” hening. Semua mata tertuju pada Bu Lin. “kita guru-guru tidak akan menyiksa ataupun menyakiti kalian semua hanya karena keinginan kita juga emosi yang dirasakan. Tetapi semua demi kebaikan kalian di masa yang akan datang,” tambahnya lagi.
Aku begitu mendalami perkataan Bu Lin, sampai-sampai aku hampir meneteskan air mata. Namun segera kuusap agar tidak terlihat oleh yang lain, terutama Bu Lin. Ternyata Bu Lin melihatku saat aku mengusap air mata.
“Rara, apakah kamu memiliki suatu hal yang mengganjal di hatimu?” sontak aku kaget saat Bu Lin bertanya kepadaku. Dan lebih memalukan lagi semua mata teman-temanku menuju diriku. Aku hanya bisa menunduk kepala. Mungkin jika ada yang melihat mukaku, pasti memerah pipiku.
“Disini jika ada yang ingin diungkapkan, ungkapkan saja, biar kita semua bisa memberi saran dan saling berbagi pengalaman. Kita semua tidak akan membenci apalagi menjauh,” jelas Bu Lin. Lho ko? Si ibu jadi baperan begitu, hehehe. Aku sedikit terhibur oleh perkataan Bu Lin.
Aku mengumpulkan keberanian untuk mengutarakan apa yang aku rasa, namun keberanian aku belum bisa mengalahkan rasa maluku.
“Baiklah, sekarang ibu akan bertanya satu-satu kepada kalian semua. Kalian semua harus bisa mengungkapkan apa yang kalian rasakan selama belajar di sekolah ini. Dengan ini semua, kalian diajarkan untuk bisa berbicara depan orang banyak. Hitung-hitung berlatih untuk bekal kalian dimasa yang akan datang,” serentak semua siswa mengangguk tanda mengerti. “Oke, ibu akan memulainya dari ujung sana,” menunjuk ke arahku. “Aku bu?” tanyaku. “Bukan Ra, itu disebelah kananmu,” jawab Wisnu, sambil tertawa diikuti oleh teman-teman yang lain juga. Hah? Sebelah kanan aku kan kosong tidak ada siapa-siapa. Aku bingung sendiri. Mengapa mereka berkata seperti itu, atau mereka sedang menjaili aku? Entahlah aku hanya bisa tersenyum melihat mereka semua tertawa. “Sudah-sudah, ayo Rara apa yang akan kamu utarakan?” tanya Bu Lin. “Hmm begini ya bu, aku tuh merasa beban tugas yang diberikan guru itu terlalu berat bagi siswa seumuran kita. Dengan peraturan sekolah yang pulang sore berangkat pagi, sedangkan waktu untuk istirahat hanya sedikit. Itupun kadang suka dipakai untuk menyelesaikan tugas. Lebih parahnya lagi, yang aku rasakan ya bu, semua tugas yang aku kerjakan dengan penuh pengorbanan juga perjuangan,” sengaja aku tidak melanjutkan perkataanku, karena aku melihat semua mata tertuju kepadaku tanpa berkedip sedikitpun. Aku hanya tersenyum melihat mereka semua seperti itu, terlebih Bu Lina juga seperti mereka, terpesona melihatku, hehehe.”Yaaaa.. malah senyum-senyum sendiri. Nggak ada yang ngajak senyum juga,” kata Wisnu. “Tahu tuh Rara, ayo lanjutkan ceritanya, hihihi,” pinta Reni. “Oke akan aku lanjutkan,” kataku. Semua bersiap-siap mendengarkan ceritaku. “Terus sampai mana tadi?” tanyaku iseng. “Lahh... ibu juga lupa kamu cerita sampai mana,” semua tertawa terbahak-bahak mendengar penjelasan dari Bu Lin. “Hehehe maaf ya bu, sekarang sudah teringat lagi. Jadi gini, mungkin kita semua membutuhkan tugas yang sesuai porsi siswa seumuran kita. Aku pribadi, tugas tidak hanya satu pelajaran atau satu guru saja. Misalnya saja, pelajaran ada 16 mata pelajaran.
Setiap mata pelajaran tersebut diberi tugas semua oleh guru-gurunya dalam waktu yang berbeda-beda. Namun ada saja waktu pengumpulan yang bentrok atau numpuk lebih dari 3 mata pelajaran dengan jangka waktu yang pendek. Kita semua sih berharap guru-guru mengerti akan tugas yang diberikan kepada muridnya yang sekiranya bisa ia selesaikan dalam jangka waktu yang pendek,” penjelasanku kini membuat semua orang tidak bersuara dan tetap memasangkan wajah yang terpukau melihat aku yang sedang bercerita.
Seperti pada tidur semua, tetapi tidak. Mata mereka seperti menerawang setiap kata yang aku luncurkan.”Hmm.. kasih tepuk tangan untuk Rara,” seru Bu Lin memecahkan keheningan. Prok, prok, prokkk...”Ibu salut sama kamu Ra, bisa mengungkapkan apa yang kamu rasakan di depan orang banyak, keberanianmu patut dicontoh oleh orang lain. Dan bahasa yang digunakan berisi, tidak hanya sekedar berbicara,” puji Bu Lin kepadaku. Aku hanya bisa tersenyum, selebihnya menahan malu. “Terimakasih kepada Rara, mungkin nanti akan ibu diskusikan kepada guru-guru lain.
Mungkin alasan kalian malas itu karena banyak tugas, sehingga kalian malas untuk mengerjakan mana dulu yang harus dikerjakan. Menurut ibu, guru memberikan tugas itu tidak ingin membebani siswa, hanya berkeinginan bahwa siswa itu harus bisa memahami ilmu yang ia terima. Guru berpikir bahwa ia tidak boleh gagal mendidik siswanya. Makanya apa saja ia berikan yang bakal siswa lebih tau dari sebelumnya,” jelas Bu Lin. “Ouhhh...” siswa hanya bisa ber-oh saat Bu Lin selesai menjelaskan. “Guru senang jika siswanya bisa sukses atas didikannya,” tambahnya. Aku merasa terbangkitkan semangat yang telah meredam sejak kini. Semangatku kini mulai muncul dan menggebu-gebu kembali. Terimakasih Bu Lin, senang aku mempunyai orang tua kedua di sekolahku yang memperdulikan siswanya, tidak hanya mengajar dan memberi tugas seenaknya.
Beberapa hari, aku mulai merasakan perubahan walaupun hanya sedikit. Aku mulai memperbaiki pola belajar, juga pola hidup. Dimulai dari membuat jadwal belajar, membuat papan tugas, membuat daftar kebutuhan juga keinginan, dan membuat daftar target yang harus dicapai dalam waktu yang sudah ditentukan.
Setiap pelajaran yang diberi tugas, akan aku tulis disebuah buku kecil. “Anak-anak, ibu hari ini tidak bisa mengajar terlebih karena ada keperluan mendadak, jadi kalian kerjakan uji kompetensi yang ada di buku paket hal 100,” kata Pa Oki, guru bahasa Indonesia. “Baik pak,” jawab semua siswa dengan serempak. Setelah Pak Oki keluar dari kelas, aku langsung menulis daftar tugas disebuah buku kecil tentang tugas. Setelah sampai rumah, baru aku buka dan selesaikan tugas meski jangka waktu yang diberikan masih lama.
Kini makin hari makin melesat perubahan yang aku alami. Mulai dari tugas yang diberikan, tidak terlalu membebani diri karena aku menyelesaikannya dengan sangat menikmati. Juga terlihat dari nilai tugas dan ulangan cukup memuaskan. Meskipun aku terlalu cuek terhadap orang lain yang meminta bantuan. Namun setelah aku berpikir, kenapa tidak? Aku membantu mereka yang kesusahan karena jika aku ada dii posisi mereka, mungkin saja sangat membutuhkan bantuan dan kita dicuekkan. Rasanya kan sakit. Tetapi aku tidak akan hanyut dalam rasa kesedihatn, kesakitan, juga kepahitan hidup. Karena jika kita ingin bahagia, kita sendiri yang bisa merancang hidup kita bahagia.
Teman-temanpun melihat perubahan yang aku alami. “Ra, kamu minu obat apa sih? Bisa rajin begitu, berubah drastis,” tanya Herdianto. “Hehehe, aku tidak minum obat apapun. Malah aku tidak suka sama obat,” jawabku sambil tersenyum. “Iya Ra, kamu bisa berubah cukup melesat menjadi lebih baik, salut aku Ra sama kamu,” tambah Reni. “Biasa saja ah, aku hanya memperbaiki apa yang salah dalam diri aku sendiri,” mungkin kata-katanya terlihat biasa, namun terasa begitu kena ke hati. “Aku juga mau ah seperti Rara, biar rajin dan nilaiku bagus-bagus,” kata Wisnu yang tiba-tiba gabung bersama kita. “Waduhh, Wisnu mah kalau berubah cocoknya jadi power ranger, hahaha,” kata temannya. “Hahaha..” semua yang ada disitu terhibur oleh perkataan temannya sendiri. “Sudah, nggak boleh begitu. Jika ada teman kita yang ingin berubah menjadi lebih baik, sebaiknya kita dukung dan kasih semangat. Siapa tahu kita sendiri terbawa semangat dan akhirnya kita semua bisa sukses bareng-bareng,” kataku dengan semangat.
Beberapa bulan, kelas kita berubah menjadi aneh. Aneh disini bermaksud kepada siswa-siswanya yang berubah menjadi lebih rajin, lebih giat, dan lebi baik dari sebelum-sebelumnya. “Wahh.. ibu salut sama kalian semua. Kalian bisa seperti ini, ibu bangga sama kalian, tolong pertahankan,” kata Bu Lin. Setelah kelas kita mendapatkan penghargaan kelas terbersih, kelas yang tertib, kelas yang teratur, juga kelas teraktif. “Iya bu, kita semua tidak akan menyia-nyiakan usaha guru-guru yang sudah dilakukan,” kata Wisnu, orang yang dahulunya terkenal nakal, kini berubah 180˚. Ia menjadi lebih rapih berpakaian, lebih sopan, dan santun. Entah dilanda apa kelas kita berubah seperti ini. Aku bersyukur bisa berubah menjadi lebih baik bersama-sama dengan teman-teman.
Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Kita semua akan lulus dari sekolah tercinta ini. “Ra, kamu mau dilanjutkan kemana sekolanya?” tanya Reni. “Hmm.. masih pikir-pikir, belum terlalu matang, hehehe,” jawabku sambil cengegesan. “Kalau kamu mau kemana Ren?” tanyaku kepadanya. “Aku sudah pasti ke Universitas Pendidikan Indonesia, aku mau menjadi guru yang teladan seperti Bu Lin,” jawabnya percaya diri. “Aku doakan saja, semoga tercapai dan sukses ya Ren,” kataku. “Iya Ra, makasi ya, kamu juga semoga nggak terlalu lama pikir-pikirnya. Ntar keburu diambil sama orang lain, hahaha,” tawa Reni terdengar satu kelas. “Shuttt, kalau ketawa jangan keras-keras, nanti Pak Sugi bisa-bisa dateng sendiri kesini tanpa diundangpun,” candaku yang diiringi tawa sekelas. “Bakal kangen sama Pak Sugi, sama momen-momen terekstream di dunia, ya kawan,” sambung Wisnu. Ah, benar semua bakal tinggal kenangan. Semua bakal hilang dengan sekejap, padahal kita semua mencciptakan kenangan tersebut butuh perjuangan juga pengorbanan yang mematikan.
Aku berpikir, mau kemanakah aku? Setelah memahami perjalanan hidupku dari nol sampai bisa berubah menjadi lebih baik lagi. Mungkin aku harus melanjutkan keahlianku dalam menghitung. Aku merasakan sesuatu yang belum aku rasakan. Dahulu aku belum bisa mengerjakan soal-soal fisika, aku selalu dimarahi dan dihukum tiap kali pelajaran fisika. Dan aku merasa down saat itu. Tidak tahu harus bagaimana. Di satu sisi, tidak ada yang menyemangati. Semangat dalam diripun, malu untuk kembali bangkit. Namun setelah semuanya diberi pencerahan, aku kembali semangat mempelajari fisika sampai-sampai aku bisa melewati persoalan yang aku alami saat pelajaran fisika.
Dahulu yang kukira fisika itu sulit, memang sebenarnya fisika sulit bagi yang belum mengenalnya. Namun fisika itu menyenangkan juga menantang. Akhirnya, aku memutuskan untuk melanjutkan pendidikanku ke Universitas Padjadjaran dan mengambil jurusan Fisika murni. Karena aku yakin, aku bisa membuktikan kepada Pak Sugi, bahwa aku bisa, bahwa aku tidak malas, dan aku tidak menyerah begitu saja.
Setelah ujian nasional berakhir, pendaftaran SNMPTN dibuka. Aku mencoba untuk mendaftarkan diri dan menyakinkan bahwa aku 100% bisa masuk di Universitas Padjadjaran. Meskipun aku sempat berpikir tentang dana yang akan keluar jika aku diterima di Universitas Padjadjaran, mengingat bahwa orang tuaku belum bisa memberikan dana dan aku tida mau merepotkan orang tua. Sehingga aku bekerja terlebih dahulu sambil menunggu keputusan Universitas. Aku bekerja tanpa mengenal lelah, bersemangat untuk bisa kuliah di Universitas. Sempat aku menangis saat bekerja, saking terharunya aku dengan diriku sendiri meliat temanku yang sedang senang-senang menunggu keputusan Universitas tanpa memikirkan biaya kuliah. Aku memang berbeda dari teman-temanku. Aku tidak mau membebani orang tua demi kebutuhan dan kepentingan aku.
Alhasil, aku diterima di UNPAD. Kemudian, aku berusaha mencoba menghubungi temangku yang lainnya. Ternyata mereka juga diterima di Universitas yang diinginkan. Alhamdulilah, rasanya senang sekali bisa masuk dan suskes bareng-bareng bersama teman sekelas.
Setelah diterima, aku mulai melakukan aktivitas seperti biasa orang yang lakukan di kampus. Aku suka pergi ke perpustakaan, laboratorium, untuk menyibukan diri dan mempersiapkan bahan-bahan yang perlu digunakan saat pelajaran nanti.
Setiap presentasi, aku sangat bersemangat menyiapkan bahan dan alat untuk bisa tampil sempurna. Mesipun aku tahu, sempurna itu hanyalah milik Allah. Tetapi kita hanya bisa mempersebahkan yang terbaik. Itulah yang aku tanamkan dalam pola pikirku. Aku tidak boleh pesimis, mudah menyerah, juga gampang malas. Semua sifat itu memang manusiawi, namun apa salahnya kita ubah semua sifat itu menjadi sifat yang bermanfaat bagi orang lain, seperti percaya diri, optimis, saling mengingatkan dan menyemangati orang lain.
Aku berusaha menjadi mahasiswa yang terbaik. Aku mencoba mendaftarkan beasiswa agar meringankan beban orang tua. “Assalamualaikum pak,” aku memasuki ruangan khusus administrasi. “Waalaikumsalam, silahkan duduk,” kata seorang bapak yang duduk di kursi kerjanya. “Iya pa, terimakasih,” aku duduk di kursi yang telah disediakan. “Ada keperluan apa datang kemari?” tanya si bapak tersebut. “Saya kesini mau mengajukan beasiswa karena saya mengalami kesulitan biaya kuliah pak,” jelasku kepadanya. “Hmm.. boleh saya minta persyaratan yang harus dipenuhi?” pinta bapak itu. Di name tagnya sih bernama Dino Suwiryo. Mungkin dipanggil Pak Dino. “Boleh pak, apa saja yang harus saya penuhi persyaratannya?” tanyaku. “Yang pertama, kartu keluarga, kartu tanda penduduk, akta kelahiran, kartu pintar jika ada, surat keterangan tidak mampu, juga angket yang harus kamu isi,” beliau memberikan kertas, sepertinya angket yang harus aku isi. “Baik pak, terimakasih sebelumnya, saya mohon pamit,” ucapku sambil menyalami tangan beliau dan pergi keluar ruangan.
Setelah itu, aku berusaha memenuhi persyaratan yang dipinta. Setelah itu aku memberikannya kepada Pak Dino tersebut. Hari demi hari, masih belum ada kabar tentang beasiswa tersebut. Aku semakin gelisah. Perasaanku campur aduk. Karena kau belum membayar kuliah dari awal. Aku sempat nangis di sepertiga malam. Aku berdoa, ya Allah, jika Engkau meridhoiku untuk terus melangkah melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi, permudahlah ya Allah. Aku akan terus berusaha memberikan yang terbaik, sekuat, sebisa, dan semampuku. Aku ingin membahagiakan orang tuaku ya Allah. Aku tidak bisa memberikan apa-apa kepada orang tuaku selain kesuksesan dan kebahagiaanku akan aku persembahkan kepada kedua orang tuaku juga orang yang telah membantuku, menyuportku. Aminn ya robbal alamin..
Beberapa hari kemudian, pengumumanpun keluar. Alhamdulilah setelah aku melihat papan pengumuman, daftar siswa yang diterima beasiswa, salah satunya aku. Namaku tertera disana. Aku bersyukur ya Allah. Terimakasih telah mengabulkan doa-doaku.
Tak lama dari itu, Pak Doni, menghampiriku, “Ra, bisa bicara sebentar di ruangan saya?” pintanya. “Iya pak, boleh,” aku berjalan mengikuti Pak Dino dari belakang. Perasaan takut, deg-degan, apalah semua menyatu menjadi satu. Setelah sampai di ruangannya, “Silahkan duduk Ra,” pintanya. “Iya Pak, ada apa ya?” tanyaku. “Berhubungan kamu mahasiswa terbaik juga nilai kamu terbaik, kampus kita mendapatkan beasiswa ke luar negeri untuk 2 orang, satu orang laki-laki dan satu orang perempuan. Pihak sekolah memilih kamu untuk mendapatkan beasiswa tersebut. Karena menurut pihak kampus, juga menurut saya pribadi, kamu pantas mendapatkannya,” jelasnya dengan detail. Tiba-tiba jantungku berhenti satu detik, dua detik, dan... alhamdulilah jantungku masih bergetar. Tidak lupa-lupanya aku selalu bersyukur dan bangga terhadap diri sendiri dan orang di sekitar yang sudah membantu aku menjadi seperti ini. Akhirnya aku bisa keluar negeri dan menyandang gelar S2 Ahli Fisika.

Kereeen.. Semangat terus
BalasHapus😇💪
BalasHapusWow elsa, semangat terus ya
BalasHapus💪😇
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusCeritanyaa bagus, sukses trs🤗👌
BalasHapus👍💪
BalasHapusKeren 👍
BalasHapus😇💪
BalasHapusWadadaw lanjutkan kak:))
BalasHapusCerita anak SMA banget nih 😂 , semangat dan sukses
BalasHapus😇💪
BalasHapusRealita banget ;) , cerita yang menarik
BalasHapus😇
BalasHapusUuuwwwoooowwww.. Keren..
BalasHapusBagusss
BalasHapus