Novel 2 (Lanjutan)
RIVAL
Kenaikan kelas pun kini
terjadi. Begitu cepat sekali waktu membawaku ke masa depan. Saat pertama memulai
pelajaran baru, aku disibukkan oleh kegiatan OSIS. Yaitu, MOS (masa orientasi
siswa).
Di ruang OSIS, “Parah,
parah, parah”, kata Eva. “Nyebelin banget sih tuh anak, mentang-mentang anak
guru, bisa ngelawan ke kakak kelas,” sewot Evi.
“Ada apa sih ini dateng-dateng
marah-marah Mulu?” Tanyaku sontak kaget.
“Kamu pernah ngajar si anak reseh kelas
7H ga sha? Parah banget tuh anak.” Sambil mencari tempat duduk dan berusaha
membaringkan tubuhnya. Akupun berhenti dari kegiatanku yang sedang membereskan
berkas-berkas di rak. “Iya aku pernah, aku kebagian ngajar tuh anak. Emang sih
reseh, Cuma kan kitanya harus mengontrol emosi kita va.” Aku berusaha
menenangkan perasaan mereka. Mereka hanya menghembuskan nafas dengan lega.
Tiba-tiba, “woy, buru
pada ke kelas, wali kelas sudah mulai ke kelas-kelas,” paketu OSIS masuk ruang
dan sontak membuat seisi ruang OSIS melongo. ‘”Jeh.., ayo malah pada melongo,”
sambil melambaikan tangan kepada kita semua. Kita semua heboh mencari tas
masing-masing dan berusaha untuk pergi ke kelas masing-masing. Aku mendapati
tasku dan berlari menuju kelas. Setelah aku mendengar dari teman OSIS, Rahma,
dia megang jabatan bendahara. Kata dia wali kelasku seram. Cerewet. Sepanjang
perjalanan ke kelas, hatiku gelisah, takut kena omel wali kelas karena telat
masuk kelas.
Sesampainya di kelas,
aku mengetuk pintu dan mengucapkan salam. “assalamualaikum,” sambil membuka
pintu. Aku memandang lurus ke arah meja guru. Di sana tidak ada seorangpun yang
duduk di kursinya. Ada perasaan lega menguasai hatiku. Yah, wali kelas ternyata tidak ada di sana. Tapi? Apakah dia sedang berada di meja siswa? Atau sedang berjalan ke
arah siswa yang sedang duduk?. Kupandangi satu persatu siswa di kelas itu
dan akhirnya mataku tidak mendapatkan seorang guru yang berdiri atau duduk di
kelas itu. Alhamdulillah, aman. “waalaikumsalam,” sontak kaget aku mendengar
jawaban yang membuat pikiranku buyar. Aku memberikan senyum kepada yang lain.
Lalu aku mencari tempat duduk yang kosong dan aku ingin aku duduk di paling
depan. Untung saja masih ada yang kosong di barisan paling depan.
“Sha, tadi wali kelas datang,
marah-marah habis absen karena nggak ada yang mau jadi ketua murid,” kata
seorang siswa yang duduk di seberangku, ternyata dia teman kelasku waktu kelas
7 sekaligus teman semasa SD, siapa lagi kalau bukan Fitri. Si anak yang super
gaul.
“Lah? Kenapa pada nggak mau. Kamu kenapa
nggak mau fit?” tanyaku kepadanya.
“Nggak ah, males. Nanti tuh harus ini
itu segalanya deh,” sambil memalingkan muka.
“Yaudah sha, mending kamu aja yang jadi
KM nya ya?” kata seorang siswa yang duduk di sebuah Fitri, Ifa namanya.
“Hmmm, baru juga datang, udah main suruh
jadi KM aja.” Kesalku. Setelah itu, aku beranjak ke kantor untuk membujuk wali
kelas agar mau mengajar di kelas karena tadi tidak ada yang mau menjadi ketua
murid, dengan terpaksa aku mengajukan diri.
#
Rasa penat yang
mengalir di tubuhku membuat aku ingin berbaring di atas kasur kesayanganku. Dan
kemudian aku teringat bahwa aku belum memiliki teman sebangku. Aku meraih
handphoneku dan membuka medsos. Mencari anak yang sekelas denganku. Aku tertuju
kepada seseorang yang bernama Nabilla. Dia sekelas denganku. Aku segera
mengirim pesan kepadanya, mengajak dia untuk duduk sebangku denganku.
'Hai, namaku Shasa. Kamu masuk kelas 9A
ya?’ tanyaku lewat pesan.
‘Hai juga, aku Nabilla, iya aku masuk
kelas 9A.’ Jawabnya.
‘Sekelas dong sama aku, boleh ya aku
sebangku sama kamu, kebentulan aku udah dapat bangkunya.’
‘Oh boleh, maaf tadi nggak masuk
sekolah, masih liburan soalnya,’
'Oh iya tidak apa-apa. Makasih udah mau
sebangku sama aku.’
‘Iya sama-sama sha,'
Senangnya hatiku
akhirnya aku menemukan teman sebangku. Sepertinya sih dia orangnya pendiam, agak
seriusan gitu. Dan aku baru kenal dia selama sekolah di sini.
#
Waktu telah membawa
seisi bumi menjauh dari masa lampau. Aku sudah merasa nyaman di kelas ini.
Dengan menjadi KM, aku sangat bersyukur bisa memimpin suatu kelas sehingga bisa
menjadi kelas yang terbaik, terutama dari kelas terbersih. Sebelumnya sih waktu
kelas 8, kelasku memang menjadi kelas terbersih. Karena aku seksi
kebersihannya. Dan sekarang, diposisi aku yang menjadi KM, ada rasa yang
membedakan. Terkadang aku memegang peran sekretaris, bendahara, karena mereka merasa
kurang bersemangat. Pada saat itu memang aku sedang semangat-semangatnya.
Aku mulai akrab dengan
teman sebangkuku. Hingga saat menulis atau mengerjakan soal pun, kita sambil
tertawa di saat posisi guru tidak ada. Tempat pensil sering melayang ke depan
akibat ulahku dan ulahnya. Meja pun sering maju ke depan, tetapi semua itu
membuat kita senang dan tidak jenuh.
Suatu hari, tiba-tiba
ada seseorang yang mengirimku pesan. Ternyata teman sekelasku, Lesmana namanya.
'assalamualaikum
sha'
Aku tidak membalas pesannya, hanya aku
jawab dalamnya di dalam hati.
'aku
lesmana, sha'
‘waalaikumsalam,
iya ada apa ya?’
‘lagi
apa sha?’
Hmmm mulai deh, cowo yang mau PDKT basa
basinya sudah kelihatan dari awal. Sampai di mana dia mengungkapkan perasaannya.
'sha,
aku mau jujur nih, dari awal aku ketemu kamu tuh, aku suka sama kamu, sha'
Waduhhh.. apa salahku sampai dia bisa
mempunyai rasa kepadaku. Padahal aku tidak memberi harapan atau apa pun ke dia.
Aku harus jawab apa. Aku tidak ingin menyakiti hati dia hanya sebatas teman.
‘Makasih
banyak sudah menyukaiku, Lesmana'
‘Tapi
kamu jangan bilang siapa-siapa ya'
Hahahaha memang kenapa ya kalau bilang
wkwkwk. Bakal perangkah? Bakal serukah?
‘Oke
siap Lesmana’
Hari itu juga aku ingin
teriak dan tertawa sekencang-kencangnya karena ternyata ada yang diam-diam
menyukaiku. Dengan tingkahnya yang lucu membuat aku gemas padanya. Tetapi bukan
dia saja ternyata yang menyukai dalam diam.
Sore itu saat hujan,
aku menerima pesan dari seorang yang bernama Diansyah.
‘assalamualaikum’
‘waalaikumsalam’
Kenapa aku langsung
menjawab pesannya, karena nomornya sudah aku save.
‘lagi
apa sha? Udah makan belum?’ blablabla seperti
pesan cowo yang sedang PDKT. Dan suatu ketika, aku dikagetkan dengan pesan yang
ia kirimkan kepadaku saat itu. Pesan itu berisi seperti puisi namun diambil
dari lirik lagu.
Jujur
saja ku tak mampu
Hilangkan
wajahmu hatiku
Meski
malam mengganggu
Kau
tak disisiku setiap waktu
Ku
sadari aku cinta padamu
Meski
ku bukan yang pertama
Dihatimu
tapi cinta ku terbaik untukmu
Meski
ku bukan bintang di langit
Tapi
cintaku yang terbaik.
OhMayGat, kenapa bisa ada 2 orang yang
menyukaiku dalam satu kelas? Tapi aku tidak begitu menghiraukan mereka. Aku
tidak begitu memperdulikan mereka. Karena aku masih begitu polos sih tidak
terlalu berpikir yang jauh ke arah sana. Sehingga aku mengabaikan semua
perhatian atau perlakuan yang mengungkapkan perasaan mereka.
#
Riuh suasana kelas
disaat guru tidak ada. Membuat kesempatan bagi siswa siswi untuk bermain,
mengobrol, menggosip, jail sana sini. Ada juga yang bermain alat musik membuat
suasana kelas terasa bising di telingaku.
“Sha, cowo yang suka sama kamu ada di
kelas ini ya? Siapa siapa?” tanya Nabila dengan begitu penasaran dari malam
saat aku bercerita kepadanya dan sampai sekarang ia masih begitu penasaran.
“Apasih, sudahlah enggak usah dibahas
lagi.” Tepisku.
“Ciri-cirinya aja sha, apa?”
Aku hanya terdiam dan tidak
memperdulikan perkataan Nabila.
“Oh. . Yang status WhatsApp kamu ya,
kamu suka cowok yang main gitar kan?”
“Sudah gausah dibahas lagi, Bil.”
Acuhku.
Karena aku tidak mau membuat Lesmana dan
Diansyah malu dihadapan kelas. Dan untungnya, Nabila tidak begitu penasaran
lagi hingga dia tidak terus memaksa aku untuk mengungkapkan.
#
Tik..tok..tik..tok.. suara jam yang
begitu terdengar jelas, menemaniku disaat merenung di atas kasur. Entah menunggu
apa atau memang tidak ada yang kutunggu.
Hari-hari ini aku selalu chatingan
dengan Rival, teman SDku. Yang dulu aku sukai, namun selalu didekati oleh
temanku, Fitri. Sehingga aku beralih kepada Firman semenjak itu. Entah apa yang
membuat kita bisa chatingan begitu sering. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk
menjadikan aku pacarnya.
Sebenarnya aku tidak begitu dalam
mengenalnya, mempunyai perasaan kepadanya. Tetapi setelah status kita pacaran,
rasaku padanya mulai tumbuh. Mengapa aku bisa yakin rasa itu tumbuh? Karena aku
merasa cemburu mendengar dia chatingan mesra dengan perempuan lain.
“Sha, kamu gatau ya, kalau Rival itu
suka chatingan manggil sayang sama temennya, yang namanya Cahya?” tanya Nabila
tepat disaat aku sedang duduk berdiam diri di kelas selama istirahat.
“Aku juga sudah dengar itu dari temannya
Rival, apa memang benar ya dia chatingan gitu sama temannya, Bil?” tanyaku
dengan mata sendu.
“kamu harus cari taulah, Sha. Kamu
jangan mau dibohongi sama dia.”
“bagaimana caranya, Bil?”
“Suruh temannya Rival screen shot
chatingannya Rival sama temannya itu, gimana?”
Hmm..
apakah dia mau membantuku? Batinku seolah tidak
mendukung. Karena yang aku takutkan dia bersekongkol untuk merekahkan hubungan
aku dengan Rival.
Saran Nabila pun aku tidak melakukannya.
Biarkan semuanya terbongkar dengan sendiri. Aku tidak berusaha untuk menanyakan
kebenarannya kepada Rival. Karena sikap dia terhadapku masih sama, tidak
berubah seperti ingin menjauh dariku.
#
Drrtttt.. dering pesan masuk
handphoneku. Kubuka pesan dari Rival.
Kamu udah merangkum pelajaran IPA?
Begitulah chatingan kita selama ini.
Bukan kebanyakan ngebucin, tetapi pelajaran yang sering kita bahas. Namun yang
membedakannya itu, dia memanggilku dengan cans. Dia suka memujiku saat aku
memposting fotoku. Namun setelah itu tidak ada pembicaraan lagi untuk bisa
chatingan lama.
Kenapa emangnya?
Balasku seperti biasa, seperti tidak
sedang pacaran, malah seperti orang asing yang menanyakan alamat.
Nanti aku pinjam bukumu ya, cans. kalau
kamu udah merangkumnya.
Namun aku perasaanku luluh saat dia
memanggilku dengan panggilan kesayangannya. Kau tahu aku memanggil dia apa?
Pangeran bawel. Entah kenapa aku bisa memanggilnya itu. Padahal dia tidak
sebawel itu.
#
Keesokan harinya..
“Sha, dipanggil sama Firman di luar,”
kata Lusi teman sekelasku yang sedang duduk di luar kelas.
Aku bangkit dari duduk dan berjalan
menuju pintu kelas.
“Sha, mau ambil buku IPA kata Rival,”
Aku mengangguk dan melihat Rival berada
di belakang Firman. Entah kenapa dia seperti pemalu gitu. Aku mengambil buku
dan menyerahkan kepada Firman.
“makasih Sha,” kata Firman sambil
memberikan buku kepada Rival dan berjalan lebih dulu meninggalkan kelasku.
Rival hanya tersenyum kepadaku. Dan aku membalasnya dengan senyuman heran.
#
Setelah beberapa hari, Rival
mengembalikan bukuku juga diantar oleh Firman.
Chatingan kita tiap hari pun sudah bukan
kebiasaan lagi. Beberapa hari lagi dia ulang tahun. Aku berencana memberikan
dia kue ulang tahun. Dan setelah hari ulang tahunnya, hari itu hari dimana kita
memutuskan untuk pacaran. Dia mengirimku pesan.
‘Nanti tanggal 14 kita jalan-jalan yuk’
Ada angin apa dia bisa mengajakku
jalan-jalan. Bagaimana nanti saat
jalan-jalan? Apakah diam diam sendiri? Aku masih tidak kebayang kalau dia
mau mengajakku jalan-jalan.
‘Insyaallah kalau tidak ada halangan’
Balasku itu saja, menurutku lebih baik
tidak begitu berharap daripada nanti kecewa yang dirasa.
Di hari ulang tahunnya, aku memberikam
dia kue ulang tahun di saat jam pulang sekolah.
“Bil, kamu pulang duluan ya, aku ada urusan,”
kataku sambil merapikan tas dan mengambil kue di dalam lemari.
“Iya, semoga sukses rencananya, Sha.”
Dia menyemangatiku meskipun itu hanya untuk membahagiakanku.
Setelah sampai di kelas Rival, aku
melihat dia di dorong-dorong oleh temannya ke lapangan. Tetapi sebelumnya
teman-temannya menyiram dia dengan air, aku memanggilnya. “Val..” semua orang
melihatku. Kemudian Rival mendekatiku tanpa berbicara apapun. “cie..cie..cie..”
suara bergemuruh dari teman-temannya menyorakiku dan juga Rival.
Aku langsung menyodorkan kue ulang tahun
kepadanya. “selamat ulang tahun,” setelah itu aku pergi meninggalkannya tanpa
permisi dan merasa malu juga kecewa. Karena disitu ada perempuan yang memang
benar chatingan dengan Rival. Kuharap aku tidak akan merasakan perasaan ini
lagi.
#
Hari ini, hari yang aku tunggu. Aku
menunggu dia mengabarimu untuk jalan-jalan.
Drrrttt drrttt... Aku membuka pesan dari
Rival.
‘Sha, sepertinya kita tidak bisa
jalan-jalan, maaf banget ya’
Degh. Tidak apa. Itu hanya dentuman
kecil yang menyentuh hati. Masih bisa aku kendalikan.
Shasa: ‘Kenapa memangnya?’
Rival : ‘gapapa kok, oiya kita udahan
aja ya sampai sini’
What? Ada apa dengannya? Mengapa dia
bisa mengakhiri semua ini?
Rival : ‘gimana Sha? Kita harus fokus
dulu sama cita-cita masing-masing’
Alasan yang klasik.
Shasa : ‘okay kalau itu mau kamu.’
Setelah itu, aku tidak lagi chatingan
dengannya. Aku tidak berusaha untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Kabar-kabar sih dia dekat dengan temannya. Tapi rasaku sudah hilang bersama dirinya.
Selamat tinggal, terimakasih sudah
membuatku merasakan perasaanmu.
Tunggu kelanjutannya ya....
Komentar
Posting Komentar